Wildfang: Menjalankan Aktivisme Lewat Fashion

Kata feminisme masih jadi momok menakutkan bagi banyak orang yang sebenarnya tidak mengetahui esensinya. Masih banyak awam yang menyangka kalau gerakan ini adalah usaha untuk merepresi laki-laki. Padahal sejatinya, feminisme  menuntut agar perempuan dimanusiakan serta berdiri sama tinggi, sesederhana itu kok.

 

Dengan banyaknya kasus pelecehan seksual baik fisik maupun verbal yang kerap diterima oleh perempuan di berbagai belahan dunia, harusnya kita sadar, bahwa kesetaraan yang diperjuangkan para feminis itu bukan hal yang main-main. Karena berurusan dengan mengubah paradigma banyak orang yang masih memandang perempuan sebagai warga nomor dua.

 

Para feminis pun memperjuangkan nilai-nilai dan ideologi mereka lewat bermacam-macam cara, salah satunya melalui fashion.

 

Women empowerment is the new black dalam industri fashion, rumah mode Dior sempat mengeluarkan koleksi kaos dengan tulisan “WE SHOULD ALL BE FEMINISTS” yang dijual seharga US$ 710 per potongnya (sebagian penjualan disumbangkan untuk pendidikan perempuan muda). Desainer Prabal Gurung juga tidak mau ketinggalan, di New York Fashion Week tahun lalu, ia memamerkan kaos dengan tulisan “Nevertheless She Persisted” dan “The Future Is Female”. Sayangnya dua nama besar dalam dunia mode tersebut kerap dituduh telah menggunakan feminisme sebagai sarana jualan.

Salah satu brand yang memperjuangkan feminisme sejak awal berdiri (bahkan sebelum feminisme menjadi tren) adalah Wildfang. Kalau pernah melihat selebriti yang memakan t-shirt bertuliskan “Wild Feminist”, t-shirt tersebut adalah trademark Wildfang yang membuat brand asal Oregon, Amerika Serikat ini makin terkenal.

 

Sebagian keuntungan yang didapatkan Wildfang meluncur ke Planned Parenthood dan American Civil Liberties Union (ACLU). CEO Wildfang, Emma Mcilroy menegaskan kalau apa yang diperjuangan Wildfang bukan sekadar slogan.

 

Bersama co-founder, Julia Parsley, Emma mulai kepikiran membuat Wildfang saat mereka berdua sama-sama bekerja di Nike. Keduanya sadar akan kebutuhan pakaian androgynous yang bisa dikenakan oleh perempuan.

Di tahun 2012, Emma dan Julia menghabiskan waktu mereka untuk melakukan riset konsumen, dan mereka menemukan bahwa jumlah perempuan yang merasa tidak terwakilkan oleh brand-brand yang sudah ada itu banyak sekali. Perempuan-perempuan ini membutuhkan tempat menyenangkan untuk membeli pakaian yang androgynous tapi dengan ukuran yang pas.

 

Menurut mereka, definisi pakaian perempuan itu sangat luas variasinya. Tidak terbatas pada rok, atau gaun. Perempuan juga bisa memakai setelan jas dan terlihat keren, kemeja, celana, kaos, bukan hanya monopoli laki-laki.

 

Model-model yang mereka ajak kerjasama pun beragam dari berbagai macam ras, dan bentuk tubuh yang juga beragam. Ketika banyak label fashion secara eksklusif bekerja sama dengan model-model dengan tubuh langsing, Wildfang berinisiatif mengeluarkan produk dengan ukuran dari XS hingga 2XL.

 

Selain menjadi oase fashion, Wildfang juga menjadi wadah para aktivis untuk menyuarakan pendapat mereka mengenai isu-isu yang tengah bergulir. Seperti kekerasan seksual, isu politik, hingga insiden penembakan yang kerap terjadi di Amerika Serikat.

Bisa dibilang Wildfang berhasil menjalankan bisnis simbiosis mutualisme dengan baik. Konsumen yang memiliki visi serta nilai tersendiri, bertemu dengan label yang mengerti serta menjawab kebutuhan mereka. Mcilroy dapat membaca kecenderungan konsumen yang ingin membeli produk yang sesuai dengan idealisme mereka.

 

Wildfang hadir bukan hanya sekadar slogan dukungan untuk feminisme, tapi mereka hadir untuk memberi kesempatan ke banyak perempuan untuk berani keluar dari kotak-kotak yang telah dibuat oleh norma masyarakat yang telah berlangsung terlalu  lama dalam perabadan manusia.

0 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in OU pini

OU pini

ANTUSIASME ANAK MUDA PADA UI/UX DESIGN

Banyaknya layanan yang terus memanjakan pengguna, ternyata berpengaruh besar pada keinginan anak muda untuk berlomba menciptakan berbagai aplikasi yang menarik. Antusiasme tersebut, dalam skala kecil, tampak jelas terlihat pada mahasiswa Program Graphic Design and New Media dari Binus Northumbria School of Design dalam workshop yang diadakan oleh Ou Magazine pada hari Jumat lalu.   Workshop…
OU pini

Refleksi Diri Lewat Reality Show

Bisnis reality show di televisi memang tidak ada habisnya. Kenapa? Mungkin program jenis ini memiliki daya pikat tersendiri bagi para penontonnya. Yang namanya reality show kan berdasarkan realita. Jadi banyak yang merasa punya koneksi langsung dengan cerita yang disajikan. Di Indonesia, yang namanya program reality show itu bukan lagi jadi hal yang asing, ada di…
OU pini

Wildfang: Menjalankan Aktivisme Lewat Fashion

Kata feminisme masih jadi momok menakutkan bagi banyak orang yang sebenarnya tidak mengetahui esensinya. Masih banyak awam yang menyangka kalau gerakan ini adalah usaha untuk merepresi laki-laki. Padahal sejatinya, feminisme  menuntut agar perempuan dimanusiakan serta berdiri sama tinggi, sesederhana itu kok.   Dengan banyaknya kasus pelecehan seksual baik fisik maupun verbal yang kerap diterima oleh…
OU pini

Di Balik Ketenangan musik Lo-fi hip hop di YouTube

Coba bayangkan momen pas hari-hari di kantor sangat melelahkan karena kerjaan yang numpuk. Belum lagi ocehan bos yang menambah ketegangan. Ingin berkeluh kesah tapi para sahabat juga sibuk dengan kegiatan mereka. Dan akhirnya berujung dengan pulang ke rumah, membuka kulkas lalu mengambil satu kaleng bir atau membuat teh hangat tanpa gula, kemudian menjatuhkan badan di…