‘Star vs The Forces of Evil’ dan ‘Steven Universe’: Bagaimana Kartun Merefleksikan Realitas

Kartun memiliki posisi yang unik saat ini. Pemikiran bahwa kartun hanya merupakan konsumsi anak di televisi mulai ditinggalkan dengan bertambahnya jumlah penggemar kartun di atas usia 15 tahun. Kita dapat melihat ini dalam besarnya jumlah remaja sampai young adult di acara-acara penggemar komik dan kartun. Kartun mulai dilihat sebagai media hiburan yang mencapai jangka usia yang lebih luas. Hal ini mungkin disebabkan oleh populernya pop kultur berupa manga dan anime, lalu elemen-elemen mereka juga dipelajari oleh creator kartun Barat. Secara tidak langsung hal ini mengubah apa yang seorang penonton inginkan dalam kartun, terutama dalam cerita yang disampaikan.

 

Pada artikel ini akan dibahas mengenai dua seri animasi, yaitu ‘Star vs The Forces of Evil’ yang diproduksi oleh Disney sejak tahun 2015, dan ‘Steven Universe’ yang diproduksi Cartoon Network sejak tahun 2013. Di antara banyak kartun anak-anak yang telah diproduksi ataupun tayang dalam kurun waktu tersebut, kedua kartun ini sangat menarik karena nilai yang dieksplorasi dalam cerita masing-masing kartun.

 

‘Star vs The Forces of Evil’ bercerita tentang Star, seorang putri dari dimensi lain yang harus belajar menguasai kekuatan sihirnya dan melawan monster yang ingin mencuri kekuatan sihirnya untuk berkuasa. Sementara itu, ‘Steven Universe’ bercerita tentang Steven, seorang anak yatim antara manusia dan alien yang ditemani oleh sekelompok alien pemberontak yang bersumpah melindungi bumi karena mereka pengikut setia ibu Steven dan nilai-nilai yang dipegangnya, seperti cinta dan kedamaian. Keduanya sekilas memiliki inti cerita yang sama; baik melawan buruk. Tema ini dapat ditemukan di banyak kartun fantasi. Hal menarik dari ‘Star vs The Forces of Evil’ dan ‘Steven Universe’ terletak dari bagaimana mereka menuliskan pembatas antara baik dan buruk.

 

Baik dan buruk pada kartun fantasi umumnya ditulis dengan jelas, pahlawan melawan penjahat berupa pembuat onar ataupun penguasa jahat. Karakter-karakter dapat berubah dari orang buruk menjadi baik ataupun sebaliknya tetapi ada perbedaan yang konsisten antara kebaikan dan keburukan, umumnya dengan protagonis dan antagonis utama yang tidak berubah haluan sampai akhir cerita. ‘Star vs The Forces of Evil’ dan ‘Steven Universe’ menarik dari segi ini karena sepanjang cerita, nilai baik dan buruk yang diketahui oleh protagonis utama kedua series ini ditantang oleh dunia mereka.

 

 

Star mengawali ceritanya dengan kepercayaan bahwa monster itu jahat, dan kepercayaan ini didukung oleh monster yang selalu berusaha untuk mencuri kekuatan sihirnya untuk dirinya sendiri. Kepercayaan ini goyah saat dia mempelajari bahwa kerajaannya menjajah para monster untuk mengambil tanah mereka. Sementara itu, Steven mempelajari bahwa sejarah ibunya menyimpan rahasia yang melibatkan kematian seorang figur tersayang dari kerajaan alien yang selama ini melawan Steven. Selain itu, Steven juga harus menanggung tindakan-tindakan beserta rahasia ibunya yang meninggalkan bekas-bekas emosional pada pengikutnya, beserta kerajaan alien yang selama ini melawannya.

 

Kedua cerita ini secara dasar tetap memiliki nilai baik dan buruk yang jelas, seperti saling menyayangi dan semacamnya, tetapi nilai baik dan buruk tersebut diburamkan oleh berbagai sudut pandang berbagai tokoh yang protagonis temui. Mereka entah melupakan atau tidak mengetahui kebenaran utuh dari dunia mereka, sehingga mereka mempercayai suatu pihak sebagai penjahat. Sebagian dari mereka bahkan dengan sengaja mengabaikan kebenaran utuh dari dunia mereka karena itu tidak sesuai dengan apa yang diajarkan kepada mereka, ataupun karena kebencian yang tidak rasional. Protagonis tidak sekadar menghadapi antagonis yang melawannya untuk mencapai suatu tujuan tetapi juga menghadapi keadaaan yang membuat sang antagonis memutuskan untuk melakukan hal yang buruk. Star harus melawan berbagai bentuk diskriminasi terhadap monster yang bisa diparalelkan dengan berbagai bentuk rasisme. Sementara, Steven harus melawan kepercayaan yang dipercayai semua karakter lain bahwa emosi harus dipendam serta ketakutan mereka terhadap perubahan.

 

Hal tersulit dari konflik tersebut adalah posisi protagonis yang berada di pihak yang membentuk sang antagonis. Protagonis perlahan belajar untuk berintrospeksi dan menanyakan kembali apa yang telah ia pelajari dari tokoh-tokoh baru yang ia kenal. Musuh berupa tokoh bisa mudah ataupun sulit dilawan tetapi protagonis sekarang harus juga melawan kepercayaan dan pemikiran yang telah lama ada dan memiliki pengaruh berbeda-beda ke semua tokoh yang ada di dunia mereka.

 

 

Tipe konflik kedua cerita seri ini menarik karena penonton tidak berhenti sampai terpikat pada seseorang ataupun beberapa karakter, tetapi penonton juga bisa mendiskusikan keetisan dari karakter-karakter tersebut. Penonton dan sang protagonis diletakkan di posisi ketidaktahuan yang sama sehingga sepanjang cerita mereka memikirkan kembali apa yang mereka ketahui. Ini merupakan gaya cerita yang sangat menarik untuk penonton yang mulai mengamati bahwa apa yang mereka atau orang sekitar mereka percayai atau pikirkan merupakan buah dari sejarah, dan tidak semua pemikiran tersebut patut dipertahankan. Sebagian dari kepercayaan maupun pemikiran tersebut patut dilawan, bahkan walaupun itu menguntungkan pribadi mereka, atau menghabiskan waktu yang lama.

 

Alur cerita di mana seseorang mempertanyakan diri sendiri, bagaimana lingkungannya membentuk dirinya, dan apakah lingkungan tersebut telah melakukan hal baik atau buruk memiliki daya tarik yang modern. Selama kita tumbuh, kita juga menemukan bahwa apa yang kita ketahui mengenai dunia terbatas dari apa yang kita lihat atau dengar langsung. Di luar semua itu, kita hanya mampu mengandalkan cerita tidak langsung. Semakin kita besar, kita mulai memahami bahwa cerita-cerita tidak langsung tersebut memiliki kekurangan-kekurangan tersendiri, dan kita harus menyusun sendiri kumpulan cerita tersebut menjadi sesuatu yang mendekati kenyataan. Dan saat besar, kita mungkin akan menyadari bahwa tidak semua yang telah tersusun tersebut menjadi sebuah cerita dimana semua disebabkan oleh pihak antagonis yang jahat, melainkan adanya kecerobohan, keapatisan, atau bahkan emosi berlebih.

 

 

Kita bisa menerka-nerka mengapa alur cerita tersebut baru menjadi populer saat ini. Mungkin pembauran demografik antara penggemar kartun anak, remaja, dan young adult menciptakan pasar yang menginginkan fantasi kekanak-kanakan dengan karakter yang berkembang dewasa seperti penontonnya. Mungkin bentuk tontonan hiburan yang tidak lagi terbatas pada televisi memungkinkan minat terhadap seri di mana penonton bisa mengikuti detail alur per episode secara panjang berurutan dengan layanan menonton online. Mungkin kesadaran bahwa permasalahan dunia seperti rasisme, kesulitan mengatur emosi, rasa takut terhadap perubahan, memiliki berbagai bentuk dan latar belakang yang tidak bisa diselesaikan dengan mengalahkan satu pihak. Terlepas dari semua kemungkinan itu, kita bisa mengetahui satu hal. ‘Star vs The Forces of Evil’ dan ‘Steven Universe’ mungkin merupakan sebuah cerita fantasi dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing tetapi mereka memiliki alur cerita yang cukup berhasil menirukan kerumitan dunia nyata. Alur ini bisa kita pelajari dan bahkan kita coba untuk menghadapi realitas di mana kita tumbuh saat ini.

 

Jadi apakah kamu tertarik nonton ‘Star vs The Forces of Evil’ dan ‘Steven Universe’? Atau mungkin kamu salah satu penggemarnya juga nih? Yuk ceritakan di kolom komentar di bawah ya tanggapan kamu mengenai series ini!

 

0 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in OU pini

OU pini

Konser di Jakarta Sampai Tiga Hari, Honne Ukir Sejarah

Musisi elektronik asal London, Inggris bernama Honne mengusung genre synthpop, R&B kontemporer dan dance-pop. Andy Clutterbuck dan James Hatcher membentuk Honne di tahun 2014 yang meroket berkat album berjudul Warm On A Cold Night di tahun 2016.    Menjelang akhir tahun 2019, bertempat di Livespace SCBD, Jakarta Selatan dilangsungkan konser duo Honne. Sebuah konser tur dunia…
OU pini

We Are Little Zombies, Film Wajib Tonton di JFF!

Ada beberapa film Jepang yang bergenre drama di JFF. Salah satunya adalah We Are Little Zombies yang kembali ditayangkan di 14th Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) di Yogyakarta. Film ini menerima special mention di Berlin International Film Festival 2019 dan menjadi pemenang Special Jury Award for Originality di Sundance Film Festival 2019. Wow, makin penasaran ya? Simak sinopsisnya di sini yuk!…
OU pini

Bento Harassment, Film Keluarga di Japanese Film Festival 2019

Japanese Film Festival – Indonesia 2019 (JFF) akan segera dimulai nih! Pasti udah pada tahu kan kalau tanggal 7-10 November 2019 nanti JFF dimulai di Jakarta?   OU dapat kesempatan untuk ikut Press Screening di CGV Grand Indonesia hari Selasa, 5 November 2019. Film yang ditayangkan adalah Bento Harassment. Film keluarga ini sukses bikin para…
OU pini

Sinopsis 3 Film di Hari Pertama Japanese Film Festival 2019

Pasti kamu udah siap kan untuk nonton film-film seru di Japanese Film Festival – Indonesia 2019 (JFF)? Kalo masih bingung mau nonton film apa aja, yuk simak sinopsis yang udah OU siapin buat kalian sekaligus jadwal tayangnya di JFF!