Refleksi Diri Lewat Reality Show

Bisnis reality show di televisi memang tidak ada habisnya. Kenapa? Mungkin program jenis ini memiliki daya pikat tersendiri bagi para penontonnya. Yang namanya reality show kan berdasarkan realita. Jadi banyak yang merasa punya koneksi langsung dengan cerita yang disajikan. Di Indonesia, yang namanya program reality show itu bukan lagi jadi hal yang asing, ada di mana-mana.

 

Setahun belakangan ini saja sudah banyak sekali program realitas yang ditayangkan di Indonesia. Mulai dari kompetisi menyanyi, renovasi rumah untuk keluarga tak mampu, challenge  ala “Simple Life”-nya Paris Hilton dan Nicole Richie, sampai reality show yang nggak real-real amat, yaitu dengan menjual drama percintaan muda-mudi yang entah dari mana asalnya. Ya, melihat jenis reality show jenis terakhir memang tidak ada yang bisa kita lakukan selain elus-elus dada dan berdoa semoga anak-anak TV yang menjalankan program tersebut cepat insaf.

 

Salah satu reality show yang harusnya bisa menampar pelaku industri pertelevisian adalah

Queer Eye. Insan pemegang akun Netflix pasti paham benar akan hal ini. Memang sih, Queer Eye bisa jadi reality show yang nggak ‘Indonesia banget’, atau ‘bertentangan dengan nilai-nilai ketimuran’. Gimana nggak? Isinya lima orang cowok gay. Tapi, kita harus menyingkirkan kemungkinan untuk men-judge jauh-jauh.

 

Reality show ini dibintangi Karamo Brown, Jonathan Van Ness, Bobby Berk, Tan France, dan Antoni Porowski. Queer Eye ini berhasil menyabet penghargaan Primetime Creative Arts Emmy Award untuk kategori Outstanding Structured Reality Program serta Outstanding Casting for Reality Program.

 

Sebenarnya apa sih itu Queer Eye? Sebenarnya konsep acara ini cukup sederhana dan cukup umum di dunia pertelevisian, tentang make over kehidupan orang. Tapi nggak sembarang make over, soalnya hampir segala aspek kehidupan pesertanya yang digarap. Mulai dari gaya berbusana, model rambut, tempat tinggal, hingga gaya hidupnya yang diubah.

 

Intinya: Kelima pemeran utamanya, mengajak si subyek untuk menjalani kehidupannya.

 

Dalam setiap episodenya, Queer Eye mampu menunjukkan kehangatan dan keterbukaan dengan cara mereka sendiri. Pesertanya dating dari bermacam latar belakang, mulai dari redneck, polisi, tech engineer yang nerdy abis, hingga penganut agama yang sangat relijius.

Tidak hanya hasil make over tampilan serta tempat tinggal yang membuat pangling, Queer Eye mampu membukakan mata para penontonnya.

Ketika hampir semua aspek membenturkan diri satu sama lain dan menciptakan konflik, Queer Eye berhasil menjadi common ground bagi banyak golongan. Mengingatkan kalau perbedaan merupakan hal yang wajar apabila kita melihatnya dari sudut pandang tanpa penilaian dan prasangka negatif. Dan sebagai mahluk sosial, manusia selalu bisa hidup berdampingan dan membantu satu sama lain untuk punya hidup yang lebih baik.

0 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in OU pini

OU pini

WAKTUNYA HALUU BARENG OU CHILL

OU CHILL percaya, setiap orang pasti punya dunia imajinasinya masing-masing. Imajinasi yang cuma bisa dinikmati sendirian, dan rasanya nggak mungkin untuk di realisasikan beneran. Pasti kamu punya, kan?   Coba bayangin aja, kamu berada di satu tempat yang penuh dengan imajinasimu juga orang lain. Seperti bertemu dengan penghuni laut yang ramah banget misalnya. Buat kamu…
OU pini

OU PINI: ADMIN NETFLIX, SAHABAT NETIZEN INDONESIA, TIDAK UNTUK OPERATOR SELULER TERTENTU

Kocak, menghibur, dan dicintai banyak netizen di sosial media. Akun Netflix Indonesia dikenal dengan dengan konten-kontennya yang menarik, juga tidak henti-hentinya menghibur para netizen setianya. Semenjak tayangan perdana film Netflix Indonesia,‘’The Night Come for Us’’, promosi yang di lakukan oleh pihak Netflix Indonesia sendiri begitu gencarnya. Bahkan, konten-konten yang dibuat pun sengaja mengundang banyak komentar…
OU pini

OU PINI: MASA KECIL ALFONSO CURAÒN DI FILM TERBARUNYA, ROMA

Mendengar nama Alfonso Curaòn, tiba-tiba teringat dengan film Sci-Fi kerennya, Gravity di tahun 2013 lalu. Juga Childern of Men di tahun 2006 dengan genre serupa. Adapun film-film lainnya seperti, Y Tu Mama Tambien serta Harry Potter and Prisoner of Azkaban.   Bisa di bilang, film ROMA adalah salah satu proyek pribadi dari sang penyabet banyak medali…
OU pini

MAKERFEST 2018: #LOKALBANGET

Seperti yang OU Pini lihat di tahun 2018 ini, Indonesia lagi gencar-gencarnya mendukung para UMKM kreatif untuk berani unjuk gigi di negara sendiri. Hal ini seakan mewujudkan slogan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) juga Kementrian Perdagangan Indonesia, ‘Cintai Produk Dalam Negeri’ yang kerap digembar-gemborkan beberapa tahun belakangan ini.   Banyaknya produk lokal yang OKE BANGET saat…