Ramai-Ramai Daur Ulang Film Indonesia

Pernah dengar istilah film daur ulang atau film remake? Mungkin konsep tersebut sangat tidak asing di telinga dan nyatanya emang bukan hal baru juga di industri perfilman. Beberapa studio besar di Hollywood pun cukup sering melahirkan film-film daur ulang setiap tahunnya dan sukses meraup untuk besar berkat kehadiran film-film daur ulang.

Konsep film daur ulang sendiri lebih merujuk kepada pembuatan kembali film-film yang sudah pernah hadir dengan polesan baru bahkan hingga perubahan cerita yang kental di dalamnya. Dan tak hanya di Hollywood saja, kini industri perfilman Indonesia mulai ramai diwarnai oleh film-film daur ulang. Dan sekali lagi terbukti, film-film tersebut sukses menarik penikmat film Indonesia untuk menonton di layar lebar. Ada beberapa judul film remake yang sukses di pasaran Indonesia belakangan ini, seperti Warkop DKI Reborn, Pengabdi Setan, Benyamin Biang Kerok, Ini Kisah Tiga Dara, hingga Bulan di atas Kuburan.

Bahkan film Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 berhasil menggeser film Laskar Pelangi yang telah delapan tahun menempati posisi film Indonesia terlaris sepanjang masa dengan total 6,5 juta penonton. Tak hanya Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1, film Pengabdi Setan garapan Joko Anwar pun pada tahun 2017 menjadi film dengan jumlah penonton tertinggi dengan jumlah 4,2 juta penonton per awal Desember 2017. Yang paling terbaru, Si Doel The Movie juga mampu menjaring angka sekitar 1 juta penonton. Hal tersebut membuktikan bagaimana film daur ulang memang mampu untuk menghasilkan keuntungan yang besar. Dan tak heran jika kini semakin banyak produksi film yang membuat film daur ulang atau akan memproduksi ulang film lawas.

Bahkan tren daur ulang ini tak hanya melanda dunia perfilman saja tapi juga dunia pertelevisian. Banyak sekali judul-judul sinetron lama nan popular yang mendadak hadir kembali di layar kaca berkat proses daur ulang. Stasiun televisi ANTV bisa jadi salah satu stasiun televisi yang melahirkan kembali sinetron popular terlebih dahulu. Ada judul-judul seperti Gara-Gara Duyung yang merupakan remake dari sinetron Putri Duyung, lalu Tuyul dan Mbak Yul Reborn dari sinetron Tuyul dan Mbak Yul hingga Jin dan Jun yang tetap menggunakan judul lama.

Namun apakah tren daur ulang film seperti ini adalah hal yang buruk untuk industri perfilman tanah air? Mungkin banyak yang beranggapan bahwa tren remake di dunia industri perfilman ataupun di dunia pertelevisian sekalipun tak lepas dari latar belakang upaya bisnis. Bahkan ada juga yang beranggapan kalau sineas muda sedang minim ide sampai harus mengambil atau mengadaptasi cerita yang sudah ada.

 

Untuk persoalan upaya bisnis, hal tersebut mungkin benar juga adanya. Sebab, terlalu naif jika melupakan unsur bisnis dalam industri perfilman apalagi pertelevisian. Kalau untuk persoalan krisis ide kreatif nampaknya tidak tepat digunakan untuk menggambarkan kondisi perfilman tanah air kini. Persoalanya mungkin bukan di ide kreatif tapi justru karena minimnya jumlah penulis, seperti kata aktor senior, Tio Pakusadewo dalam sebuah wawancara dengan CNN Indonesia, “Kalau ide kreatif banyak. Penulisnya yang sedikit.”

Meskipun begitu film remake sendiri sebenarnya juga mampu untuk memberikan rasa nostalgia. Tak hanya itu, kehadiran film remake juga memberi kesempatan pada generasi-generasi muda untuk melihat apa yang menjadi tontonan orangtua mereka dulu. Selama garapan film remake bisa lebih baik dibandingkan film sebelumnya entah itu dari segi pembaharuan cerita hingga sinematografi.

0 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in OU pini

OU pini

JIWA-JIWA MUSIK BERKUMPUL KEMBALI DI ARCHIPELAGO FESTIVAL 2018

Ada banyak event musik di bulan Oktober ini. Setelah kemarin merasakan keseruan bersama Synchronize Fest selama tiga hari tiga malam, beberapa hari kemudian akan ada event Archipelago Festival yang pastinya nggak kalah seru!   Archipelago Festival adalah acara musik tahunan yang fokus membahas berbagai macam isu seputar musik. Selain punya serangkaian diskusi yang jadi menu…
OU pini

FESTIVAL MERAKYAT ALA SYNCHRONIZE FESTIVAL 2018

Baru-baru ini, festival musik multi-genre tahunan berkelas nasional, Synchronize Fest digelar. Selama tiga hari, tiga malam, festival ini sukses meramaikan Gambir Expo, Kemayoran Jakarta Utara. Artis-artis terfavorit dan terbaik tanah air yang datang dari dekade 70-an hingga 2000-an. Isinya kebanyakan band-band independen dan digagas oleh deMajors, salah satu label prominent di scene musik Indonesia saat ini.…
OU pini

Seni dan Obsesinya Pada Kucing

Kalau ditanya, hewan apa yang paling sering dijadikan objek oleh para seniman dari jaman dahulu kala? Kucing jawabannya! Obsesi pada hewan yang satu ini  telah dimulai jauh sebelum era meme, video, serta foto-foto yang berserakan di Internet.   Sebelum menelusuri lebih jauh kenapa manusia sangat terobsesi dengan kucing, enaknya cari tau dulu kali ya mengenai…
OU pini

4 Band Indonesia Dengan Lirik Luar Biasa

Bentuk sastra seperti puisi bisa berdiri sendiri tanpa mengurangi sedikit pun keindahannya. Musik tanpa kehadiran vokal juga mampu berdiri sendiri tanpa mengurangi sedikit pun keindahannya. Namun bagaimana jika kedua karya seni dipadukan? Tentu akan menjadi sebuah keindahan paripurna yang patut untuk dinikmati. Mungkin musikalisasi puisi adalah satu bentuk paling terkenal dari perpaduan dua karya seni tersebut.…