Musik Pop Melayu di Indonesia: Apakah Telah Sirna?

Siapa yang saat ini bisa hidup tanpa mendengarkan musik? Pasti musik telah menjadi bagian dari keseharian kita entah saat sedang berkegiatan atau sedang santai di rumah saat akhir pekan. Di Indonesia sendiri pun musik memiliki warnanya sendiri serta tren musik yang berbeda setiap eranya. Dan tentu saja tak bisa lepas dari para penikmat musik itu sendiri.

 

Meskipun begitu pernah ada beberapa tren di suatu era di mana perkembangan musik dirasa sangat tidak beragam. Salah satunya ketika demam Pop Melayu membanjiri industri. Kehilangan orisinalitas, dan seakan hanya tercipta untuk memenuhi kebutuhan pasar saja sampai-sampai menghilangkan kualitas dari musik itu sendiri.

 

Pasti kalian pernah dengar band-band seperti Kangen Band, Wali, ST12, Hijau Daun kan? Nama-nama band barusan mungkin hanya secuil dari band-band dengan musik serupa yang sempat meramaikan musik Indonesia beberapa tahun silam. Tapi kini nama-nama tersebut sudah begitu jarang terdengar atau lebih tepatnya gaung kehadiran mereka tidak lagi seheboh dulu. Lalu, ke mana perginya band-band itu saat ini? Apakah mereka masih eksis di industri musik tanah air?

Mungkin kita lihat dulu bagaimana awal mula tren band pop melayu mulai meredup dari industri musik Indonesia. Sebenarnya bagi yang sempat suntuk dengan kehadiran band-band tersebut patut mengucapkan terima kasih kepada boyband dan girlband ala Korea yang sempat menjadi trend dan mulai menggeser band-band pop melayu dari layar kaca—meskipun tren boyband dan girlband ala Korea ini hanya sebentar. Karena setelah kehadiran boyband dan girlband lah genre pop melayu mulai ditinggalkan oleh penggemarnya.

 

Dan media sangat berperan penting dalam hal tersebut. Soalnya bisa dilihat bagaimana media pada waktu itu tak berhenti untuk menyoroti kehadiran boyband dan girlband, sehingga publik pun sudah semakin jarang mendengar band-band pop melayu.

 

Lalu, tak bisa dipungkiri juga zaman kini telah sangat jauh berubah dan penikmat musik pun jauh semakin beragam. Alhasil band-band dengan genre pop melayu pun mulai tenggelam. Di era itu belum masyarakat yang banyak melek akan teknologi sehingga televisi masih menjadi rujukan utama. Tapi kini, para penikmat musik Indonesia lebih bisa bereksplorasi untuk mencari musisi-musisi lintas genre berkat kehadiran layanan video streaming seperti YouTube atau layanan musik streaming seperti Spotify dan Joox, ataupun media sosial.

 

Meskipun begitu bukan band-band pop melayu itu sudah sama sekali hilang dari peredaran musik Indonesia. Masih ada nama-nama besar  band pop melayu yang masih eksis hingga kini. Namun kini pendengar musik Indonesia sudah tak lagi terpaku dari musik yang dihadirkan oleh ‘pasar’ saja, tapi sudah mulai menerima musik-musik dengan genre yang beragam. Lihat saja bagaimana banyak muncul musik rock dengan berbagai subgenre, lalu folk, hip hop, bahkan dangdut koplo sekalipun yang diterima oleh penikmat musik Indonesia. Hal tersebut menggambarkan bagaimana musik Indonesia kini tidak lagi selalu terpusat pada satu tren saja. Mereka yang berhasil selamat dari gelombang tren besar yang menutup kualitas musisi, sejatinya adalah mereka yang benar-benar punya karakter bagus dan berkategori survivor.

 

0 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in OU pini

OU pini

ANTUSIASME ANAK MUDA PADA UI/UX DESIGN

Banyaknya layanan yang terus memanjakan pengguna, ternyata berpengaruh besar pada keinginan anak muda untuk berlomba menciptakan berbagai aplikasi yang menarik. Antusiasme tersebut, dalam skala kecil, tampak jelas terlihat pada mahasiswa Program Graphic Design and New Media dari Binus Northumbria School of Design dalam workshop yang diadakan oleh Ou Magazine pada hari Jumat lalu.   Workshop…
OU pini

Refleksi Diri Lewat Reality Show

Bisnis reality show di televisi memang tidak ada habisnya. Kenapa? Mungkin program jenis ini memiliki daya pikat tersendiri bagi para penontonnya. Yang namanya reality show kan berdasarkan realita. Jadi banyak yang merasa punya koneksi langsung dengan cerita yang disajikan. Di Indonesia, yang namanya program reality show itu bukan lagi jadi hal yang asing, ada di…
OU pini

Wildfang: Menjalankan Aktivisme Lewat Fashion

Kata feminisme masih jadi momok menakutkan bagi banyak orang yang sebenarnya tidak mengetahui esensinya. Masih banyak awam yang menyangka kalau gerakan ini adalah usaha untuk merepresi laki-laki. Padahal sejatinya, feminisme  menuntut agar perempuan dimanusiakan serta berdiri sama tinggi, sesederhana itu kok.   Dengan banyaknya kasus pelecehan seksual baik fisik maupun verbal yang kerap diterima oleh…
OU pini

Di Balik Ketenangan musik Lo-fi hip hop di YouTube

Coba bayangkan momen pas hari-hari di kantor sangat melelahkan karena kerjaan yang numpuk. Belum lagi ocehan bos yang menambah ketegangan. Ingin berkeluh kesah tapi para sahabat juga sibuk dengan kegiatan mereka. Dan akhirnya berujung dengan pulang ke rumah, membuka kulkas lalu mengambil satu kaleng bir atau membuat teh hangat tanpa gula, kemudian menjatuhkan badan di…