Memangkas Penglihatan dari Kesan-kesan

Manusia pada abad ke-21 sekarang sudah dialihfungsikan eksistensinya menjadi sekadar komoditas dari proses ekonomi. Sifat-sifat keunikan individu yang dijunjung-junjung sebelumnya semakin memudar. Dan bertransformasi menjadi rantai terakhir ekonomi: konsumen. Dengan berbagai cara, seolah manusia dituntut untuk semata-mata menjadi rantai terakhir tersebut, mulai dari adanya pembentukan citra perusahaan, iklan-iklan yang menjanjikan kesan-kesan kosong sampai pembentukan budaya secara masif oleh media.

Konsumerisme

 

Lalu sebenarnya apa yang salah dengan menjadi konsumen? Manusia memang selalu membutuhkan sesuatu dan salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang rumit itu ialah dengan membeli. Teori ekonomi pun mengatakan bahwa pada mulanya perilaku konsumtif manusia didasari pada upaya diri untuk memenuhi kebutuhan hidup. Seorang konsumen diasumsikan selalu berupaya untuk memperoleh kepuasan tertinggi dalam suatu kegiatan konsumsi.

 

Namun menjadi konsumen yang hanya memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar sudah menjadi hal yang cukup sulit di zaman sekarang. Seiring berkembangnya industri, teknologi, dan pergerakan ekonomi secara global, kita dituntut untuk terus mengonsumsi. Ketersediaan barang yang banyak, ditambah nafsu ingin memiliki manusia yang tidak pernah usai semakin memuluskan perilaku konsumtif tersebut.

 

Salah satu alasan mengapa muncul budaya konsumtif ini ialah adanya peran media yang cukup besar. Dengan maraknya iklan-iklan di setiap mata memandang, dengan kata-kata yang bersifat persuasif, manusia dituntut untuk terus membeli membabi buta. Demi tercapainya kesan-kesan yang kosong: modern, trendy, classy, dan lain sebagainya. Dan yang paling diuntungkan di perilaku konsumtif ini bukanlah si konsumen lagi, melainkan produsen yang terus menghisap kebodohan masyarakat.

 

Mengonsumsi pun menjadi ajang sosial di masyarakat. Perlombaan untuk mempunyai barang yang terbaru dan terbagus pun tak terelakkan, tidak peduli seberapa mahal barang itu atau mungkin malah tidak berguna sama sekali. Dan kita tidak diberi kesempatan untuk memahami nafsu-nafsu untuk membeli tersebut karena barang barang yang baru dan trendy itu semakin cepat dipasarkan. Zaman sudah semakin cepat berkembang dan kita dipaksa berlari untuk mengikutinya.

 

Melihat sesuai fenomena

 

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, manusia membeli untuk memenuhi kesan-kesan kosong yang dibentuk media. Sehingga yang terjadi di sini ialah: kesan-kesan yang awalnya mendeskripsikan suatu objek atau barang dari hasil produksi, semakin dijauhkan dari objek itu sendiri. Dan manusia modern bukan lagi membeli untuk memenuhi kebutuhannya namun untuk membeli kesan-kesan tersebut agar terjadi peningkatan di taraf sosial kehidupannya. Misalnya, mengapa penjualan iPhone lebih tinggi dibanding handphone Vivo? Padahal keduanya mempunyai fungsi yang sama: menelepon, berselancar di internet, mengirim pesan, dll. Salah satu jawabannya ialah karena iPhone telah berhasil menjual kesan classy dibanding Vivo.

 

Lantas, salah satu cara untuk terhindar dari perilaku konsumtif ini ialah dengan melihat suatu objek secara fenomena, dengan menghilangkan interpretasi-interpretasi di atasnya. Fenomena yang dimaksud ialah fenomena menurut Edmund Husserl, dengan pendekatan fenomenologinya.

 

Fenomenologi berasal dari kata Yunani ‘phenomenon’ yaitu ‘sesuatu yang tampak’ atau ‘gejala’. Dengan istilah fenomenologi, jelas yang dimaksud ialah ilmu tentang ‘sesuatu yang tampak atau menampakan diri’. Husserl mengatakan bahwa fenomena adalah kenyataan pada dirinya yang menampakkan diri dan tabir yang memisahkan kita dari kenyataan itu tidak ada. Pandangan fenomena Husserl berbeda dengan Kant yang berpendapat bahwa kita hanya dapat mengenal fenomenon; tabir yang menutup kenyataan, sedangkan dibalik itu ada kenyataan yang sesungguhnya yang tak dapat kita kenali, Kant menyebutnya dengan nomena.

 

Yang dimaksud Husserl ialah bahwa kesadaran kita mampu untuk melihat secara langsung, bukan hanya dalam arti mengamati secara indrawi, melainkan terlebih dalam arti menyadari fenomen ini. Semboyan fenomenologi yang termasyur adalah Zuruck zu den Sachen selbst yang berarti kembalilah pada hal-hal itu sendiri. Maksudnya ialah manusia perlu mengarahkan diri pada hal-hal yang menampakkan diri itu dan bukan pada interpretasi-interpretasi atas suatu objek tertentu.

 

Tetapi manusia modern hidup di dalam sebuah kenyataan duniawi yang telah sarat oleh kesan-kesan yang ditimbulkan media sehingga cukup sulit untuk menangkap kenyataan yang sebenarnya. Cukup jarang saya melihat manusia membeli sesuai esensi dari barang yang ia inginkan: membeli sepatu agar tidak merasakan panas di kaki, atau membeli kendaraan agar bisa mengantarkan dirinya ke tujuan-tujuan yang ia tentukan, hampir selalu ada — atau mungkin pasti? — interpretasi-interpretasi di atasnya.

 

Akhirnya mungkin kita akan sulit untuk terus melihat sesuai fenomena karena interpretasi-interpretasi itu akan terus bermunculan. Namun tidak ada salahnya untuk terus berlatih, agar terhindar dari perilaku-perilaku yang mubazir.

0 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in OU pini

OU pini

COVID-19: What The Big Companies Do To Help

Sudah beberapa minggu sejak krisis kesehatan COVID-19 dinyatakan sebagai pandemi oleh World Health Organization (WHO). Sejak itu, hampir semua kantor dan perusahaan di seluruh dunia menerapkan sistem work from home. Gimana dengan kamu? Udah hari keberapa kerja di rumah dan dihujani pekerjaan yang nggak kenal waktu dan conference call yang nggak abis-abis? Percaya deh, OU…
OU pini

Kodein Si Dia Lebih Seru Pakai Resso!

Berbagi konten yang artistik sekarang ini gampang banget. Sudah banyak aplikasi-aplikasi pendukung yang bikin konten kamu makin oke punya. Mau editing foto hingga video sekarang bisa dikerjakan oleh siapapun, termasuk kamu sendiri.   
OU pini

NKCTHI: Pesan Awan lewat Film Terbaru Angga Dwimas Sasongko

Ada kado tahun baru dari film keluarga Indonesia berupa sebuah pesawat kertas yang berisi pesan bagi masa depan. Ya, film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini atau disingkat NKCTHI merupakan sebuah film tentang surat yang Awan tulis khusus untuk anaknya di masa depan. Nggak hanya tentang pemikiran-pemikirannya, namun juga uneg-uneg tentang dunia kehidupan yang nano-nano…
OU pini

Konser di Jakarta Sampai Tiga Hari, Honne Ukir Sejarah

Musisi elektronik asal London, Inggris bernama Honne mengusung genre synthpop, R&B kontemporer dan dance-pop. Andy Clutterbuck dan James Hatcher membentuk Honne di tahun 2014 yang meroket berkat album berjudul Warm On A Cold Night di tahun 2016.    Menjelang akhir tahun 2019, bertempat di Livespace SCBD, Jakarta Selatan dilangsungkan konser duo Honne. Sebuah konser tur dunia…