Selamat Hari Anak Nasional! Sudah Cukup Bahagiakah Kamu?

Tepat hari ini, 35 tahun yang lalu, anak-anak Indonesia mendapat satu hari khusus untuk diri mereka. Sebuah perayaan yang digagas Presiden RI ke-2, Soeharto, karena melihat anak anak sebagai aset kemajuan bangsa. Maka berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 44 tahun 1984, tanggal 23 Juli setiap tahunnya ditetapkan sebagai Hari Anak Nasional. Harapannya agar anak-anak Indonesia tumbuh menjadi anak-anak yang sehat, cerdas, taat pada orang tua, patuh pada guru, takwa pada Tuhan dan cinta tanah air. ”Bergembiralah anak-anak Indonesia!” seru Soeharto kala itu. 

 

 

Apakah anak-anak Indonesia sudah cukup bergembira? 

 

Sebuah survei dilakukan oleh Varkey Foundation pada tahun 2016 lalu tentang apa yang dirasakan dan dipikirkan anak-anak muda di dunia. Dari total sampel 20.000 anak generasi Z (yang lahir antara tahun 1995-2001) di 20 negara, termasuk UK, USA dan Indonesia, generasi Z di Indonesia atau anak-anak antara usia 15-21 tahun menjadi anak-anak paling bahagia di dunia dengan skor 90%.

 

Varkey Foundation menemukan setidaknya ada tujuh faktor yang berkontribusi pada tingkat kebahagiaan seorang anak. Tiga faktor terbesar yang menyumbangkan kebahagiaan anak-anak Indonesia adalah merasa sehat fisik dan mental, merasa memiliki hubungan yang baik dengan keluarga dan kepuasan pada pendidikan atau pekerjaan. Faktor lain secara berurutan adalah hubungan yang baik dengan teman, merasa terpenuhi dalam pendidikan agama, merasa cukup mendapatkan hiburan rekreasi dan interaksi sosial, serta merasa kebutuhan ekonomi tercukupi.

 

Ketika ditanya faktor yang paling penting dan berpengaruh pada masa depan mereka, responden remaja Indonesia menjawab keluarga. Sementara, pekerjaan atau karier menempati urutan terpenting ke-3 dan uang menjadi yang terpenting ke-4.

 

Survei itu juga menunjukkan ketika anak-anak di berbagai negara merasa pesimis dengan masa depan mereka, anak-anak muda Indonesia justru menunjukan optimisme. Mereka yakin perdamaian memberikan harapan bahwa dunia akan lebih baik.

 

Kalau melihat dari faktor-faktor tersebut, rasanya kehidupan remaja Indonesia sudah cukup ideal. Apakah benar?

 

Faktanya, masih banyak kasus-kasus kekerasan pada anak terjadi di Indonesia. Kekerasan fisik dan bullying menjadi yang paling banyak terjadi dan pada kebanyakan kasus, pelakunya justru orang-orang terdekat. KPAI merilis bahwa ada 4.885 kasus pelanggaran hak anak yang diterima timnya sepanjang tahun 2018 lalu.

 

Ada 228 kasus kekerasan di bidang pendidikan, melingkupi kekerasan fisik dan seksual, yang terjadi sepanjang tahun 2018 justru terjadi di sekolah. Pelakunya nggak jauh dari pendidik, teman sekolah, bahkan kepala sekolah. Sisanya kasus Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH) dan kasus pornografi dan cyber.

 

Temuan lain juga dirilis oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak tahun 2018 lalu. Hasilnya 2 dari 3 anak usia 13-17 tahun mengaku pernah mengalami kekerasan. 70% pelakunya didominasi teman atau yang sebaya.

 

Angka-angka itu hanya segelintir kasus yang dilaporkan, masih banyak kasus serupa yang enggan dilaporkan ke pihak terkait dengan berbagai alasan, terutama kasus kekerasan seksual. Banyak orang tua korban yang merasa malu atau menjadi aib jika kasus itu tersebar di masyarakat luas sehingga banyak yang memilih disembunyikan. Atau malah lebih buruk “mengawinkan” paksa anaknya dengan si pelaku kekerasan.

 

Sangat penting bagi korban untuk melaporkan kasus yang dialaminya. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yembise menggelar Forum Anak Nasional 2018 di Makassar, Sulawesi Selatan. Pesertanya adalah anak-anak perwakilan setiap provinsi di Indonesia. Mereka digembleng selama 3 hari untuk menjadi pelapor. Anak-anak ini diajarkan untuk berani melaporkan kasus yang mereka alami ke pihak berwajib, baik kasus kekerasan dalam keluarga, kekerasan seksual, maupun bullying. Harapannya anak-anak jadi memiliki lebih banyak opsi untuk memilih kepada siapa mereka akan mengadukan kasusnya.

 

Keluarga Komunikatif

 

Elizabeth Santosa, psikolog sekaligus penulis buku “Raising Children in Digital Era”, menilai seorang anak layak bahagia dan bergembira karena hal itu berperan dalam membentuk kesadaran diri, manajemen diri dan kemampuan sosial anak, seperti dilansir oleh Tirto.ID. Keluargalah yang memiliki peran terbesar untuk mencapai itu karena lingkungan terdekat seorang anak adalah keluarga.

 

Tapi nggak dipungkiri banyak orang tua yang sering kerepotan memahami anaknya sendiri. Bisa jadi itu karena orang tua merasa sudah mengenal anaknya dengan baik sehingga pentingnya komunikasi, mendengar dan didengar menjadi sering diabaikan. Padahal seorang anak adalah individu tersendiri dengan keunikannya sendiri.

 

Selamat Hari Anak Nasional! Apakah kamu sudah cukup berbahagia?

 

0 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in OU pini

OU pini

COVID-19: What The Big Companies Do To Help

Sudah beberapa minggu sejak krisis kesehatan COVID-19 dinyatakan sebagai pandemi oleh World Health Organization (WHO). Sejak itu, hampir semua kantor dan perusahaan di seluruh dunia menerapkan sistem work from home. Gimana dengan kamu? Udah hari keberapa kerja di rumah dan dihujani pekerjaan yang nggak kenal waktu dan conference call yang nggak abis-abis? Percaya deh, OU…
OU pini

Kodein Si Dia Lebih Seru Pakai Resso!

Berbagi konten yang artistik sekarang ini gampang banget. Sudah banyak aplikasi-aplikasi pendukung yang bikin konten kamu makin oke punya. Mau editing foto hingga video sekarang bisa dikerjakan oleh siapapun, termasuk kamu sendiri.   
OU pini

NKCTHI: Pesan Awan lewat Film Terbaru Angga Dwimas Sasongko

Ada kado tahun baru dari film keluarga Indonesia berupa sebuah pesawat kertas yang berisi pesan bagi masa depan. Ya, film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini atau disingkat NKCTHI merupakan sebuah film tentang surat yang Awan tulis khusus untuk anaknya di masa depan. Nggak hanya tentang pemikiran-pemikirannya, namun juga uneg-uneg tentang dunia kehidupan yang nano-nano…
OU pini

Konser di Jakarta Sampai Tiga Hari, Honne Ukir Sejarah

Musisi elektronik asal London, Inggris bernama Honne mengusung genre synthpop, R&B kontemporer dan dance-pop. Andy Clutterbuck dan James Hatcher membentuk Honne di tahun 2014 yang meroket berkat album berjudul Warm On A Cold Night di tahun 2016.    Menjelang akhir tahun 2019, bertempat di Livespace SCBD, Jakarta Selatan dilangsungkan konser duo Honne. Sebuah konser tur dunia…