GRUP MUSIK ROCK ‘’FEAST’’, BERANI BEDA!

Ada band bagus yang OUPINI temukan. Musiknya rock, namanya Feast.Mereka punya segudang keunikan di setiap lagu yang mereka ciptakan.

 

Band ini terdiri dari Baskara Putra, Adnan S.P, Dicky Renanda, F, Fikriawan, dan Adrianus Aristo Haryo. Mereka punya karakter tersendiri yang berbeda dari band-band lainnya. Bagaimana tidak? Untuk setiap pembuatan single lagu, band ini selalu berkolaborasi dengan pihak-pihak tertentu untuk menunjang karya yang akan dilahirkan.

 

Feast selalu mencampurkan berbagai elemen yang berbeda, seperti gospel, stoner, doom, hingga hiphop.

Tidak hanya instrument musik saja yang diperhatikan, band ini juga memperhatikan konsep cover secara visual juga makna tersirat dari setiap lirik yang dibuat. Mereka tidak takut untuk vulgar dalam bermusik, terlebih dengan lirik yang banyak dihindari oleh sesama pemusik lainnya.

 

Lalu, seperti apa sih bahasan dalam band rock ini?

 

Jika kalian jeli, pada setiap lagu yang dibawakan oleh Feast ini banyak mengangkat tema-tema politik, aktivisme, juga tema-tema riskan lainnya. Pada judul juga bentuk cover visual setiap lagunya pun turut diperhatikan. Seperti judul lagu  “Wives of Gojira” dan “Sectusempra” yang menggunakan istilah fiksi dari mantra film Harry Potter karena dianggap dapat menggambarkan hal-hal yang tidak bisa digambarkan dengan kata normal.

Lain lagi dengan single yang berjudul Pemakaman/Berita Kehilangan yang dikemas dengan konsep kelam/gelap karena pada single ini membahas seputar kasus-kasus kelam yg pernah melanda negeri ini (pemberontakan, pemerkosaan, hingga kasus teroris). Mereka mencoba untuk mengingatkan kembali peristiwa-peristiwa tersebut melalui karya mereka.

 

Nggak selamanya lirik-lirik apik yang dibuat harus melulu karangan sendiri. Mereka pernah meminjam lirik pada beberapa single mereka, seperti lagu ‘’Taifun’’ Barasuara’’, ‘’Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti’’ milik Banda Neira. Tentunya, dengan persetujuan yang punya lagu.

Mereka tahu bahwa tiap orang memiliki selera yang berbeda dan tidak bisa dipaksakan. Namun, mereka punya cara sendiri agar dapat melebur dengan semua pihak, yaitu dengan berkolaborasi dengan banyak orang. Ide yang bagus.

 

0 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in OU pini

OU pini

ANTUSIASME ANAK MUDA PADA UI/UX DESIGN

Banyaknya layanan yang terus memanjakan pengguna, ternyata berpengaruh besar pada keinginan anak muda untuk berlomba menciptakan berbagai aplikasi yang menarik. Antusiasme tersebut, dalam skala kecil, tampak jelas terlihat pada mahasiswa Program Graphic Design and New Media dari Binus Northumbria School of Design dalam workshop yang diadakan oleh Ou Magazine pada hari Jumat lalu.   Workshop…
OU pini

Refleksi Diri Lewat Reality Show

Bisnis reality show di televisi memang tidak ada habisnya. Kenapa? Mungkin program jenis ini memiliki daya pikat tersendiri bagi para penontonnya. Yang namanya reality show kan berdasarkan realita. Jadi banyak yang merasa punya koneksi langsung dengan cerita yang disajikan. Di Indonesia, yang namanya program reality show itu bukan lagi jadi hal yang asing, ada di…
OU pini

Wildfang: Menjalankan Aktivisme Lewat Fashion

Kata feminisme masih jadi momok menakutkan bagi banyak orang yang sebenarnya tidak mengetahui esensinya. Masih banyak awam yang menyangka kalau gerakan ini adalah usaha untuk merepresi laki-laki. Padahal sejatinya, feminisme  menuntut agar perempuan dimanusiakan serta berdiri sama tinggi, sesederhana itu kok.   Dengan banyaknya kasus pelecehan seksual baik fisik maupun verbal yang kerap diterima oleh…
OU pini

Di Balik Ketenangan musik Lo-fi hip hop di YouTube

Coba bayangkan momen pas hari-hari di kantor sangat melelahkan karena kerjaan yang numpuk. Belum lagi ocehan bos yang menambah ketegangan. Ingin berkeluh kesah tapi para sahabat juga sibuk dengan kegiatan mereka. Dan akhirnya berujung dengan pulang ke rumah, membuka kulkas lalu mengambil satu kaleng bir atau membuat teh hangat tanpa gula, kemudian menjatuhkan badan di…