Bencong Si Eksistensialis

Bencong, atau dalam bahasa yang lebih ‘keren’ kita menyebut mereka sebagai transgender, merupakan sosok yang sering kita anggap sebelah mata. Mereka sering banget terlihat di pinggir jalan sembari menenteng bass betot yang sangat D.I.Y (Do It Yourself) itu, atau speaker yang kadang bisa buat dua telinga bindeng, dengan harapan dan usaha demi mengumpulkan recehan-recehan dari kantong kita masing-masing. Tak jarang kita juga melihat beberapa bencong yang sial, dilecehkan oleh anak-anak kecil maupun orang-orang dewasa karena penampilan yang mencolok dan berbeda dari yang lain. Seolah-olah yang terjadi ialah: “Mereka berbeda dari kita, mereka merupakan makhluk yang entah dari mana dan tiba disini, dan karena itu, mereka patut di lecehkan”. Sepertinya publik masih terlalu pendek akal untuk menerima manusia yang ‘sedikit’ lebih berbeda.

 

LGBTQ

 

LGBTQ yang merupakan kepanjangan dari Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender dan Queer, sedang menjadi tren yang hangat di dunia. Banyak dari mereka—terutama di daratan Amerika—yang memperjuangkan hak-hak hidup, dengan bergabung dalam komunitas dan turun ke jalan. Komunitas tersebut mempunyai hari perayaannya sendiri yang disebut Pride Month

 

Pride Month (PM) merupakan ajang tahunan di mana mereka bersuara di depan umum sambil berdandan serta berpakaian dengan unik. PM biasanya diselenggarakan pada bulan Juni. Pride (bangga) adalah yang sedang coba mereka perjuangkan dalam ajang tahunan tersebut. Tak bisa dipungkiri, stigma sosial yang terjadi di publik masih beranggapan bahwa menjadi ‘sedikit berbeda’ merupakan kesalahan dan kalian harus malu terhadap diri kalian sendiri. Anggapan ini yang sedang mereka lawan. 

 

PM juga menjadi ajang eksistensial bagi komunitas mereka. Dengan turun ke jalan, mereka berjuang untuk mendapatkan kesamarataan posisi di masyarakat, hak-hak hidup secara utuh, pengakuan individu. Kebutuhan untuk aktualisasi diri mendorong keinginan mereka untuk membangun kesadaran masyarakat tentang komunitas mereka. Selain itu, juga membangun kesadaran masyarakat bahwa mereka juga manusia yang berkesadaran penuh atas dirinya sendiri dan hidup atasnya. Dari sudut pandang penulis, menjadi bencong merupakan keberanian atas diri.

Eksistensialisme

 

Eksistensialisme tidak hanya diartikan sebagai gaya berfilsafat, tetapi juga merupakan suatu tata cara hidup di mana seseorang mengambil peran seutuhnya manusia dalam pengambilan sikap mengenai dirinya yang otentik.

 

Kata ‘eksistensi’ mengacu pada kekonkretan, keunikan keadaan. Dalam frase Bahasa Inggris, eksistensi adalah that it is. Gagasan tentang eksistensi mengacu pada keunikan dan kekonkretan sesuatu itu dikembangkan dalam eksistensialisme modern. Menurut asal katanya, ‘to exist’ berasal dari kata latin ‘ex-stare’ yang artinya ‘berdiri di luar’ atau ‘muncul’. Dengan semua pengertian itu, eksistensialisme ingin memusatkan diri pada cara berada manusia yang khas dan tak dapat disamakan dengan cara berada alam ataupun kelompok.

 

Sartre menyebut manusia sebagai “eksistensi yang mendahului esensi”. Dengan perkataan ini, Sartre mengkritik seluruh tradisi filsafat barat tradisional yang teistis, sekaligus secara radikal membuktikan kebebasan manusia. Filsafat teistis menganggap bahwa manusia “esensi yang mendahului eksistensi”. Dapat dilihat dalam beberapa agama dipercayai bahwa Tuhan memikirkan sebuah konsep tentang manusia, seperti adanya blueprint tentang bagaimana manusia ini nanti berlaku dan berkehidupan. Melawan itu semua, Sartre berpendapat bahwa manusia terlebih dulu ada, baru setelahnya ia didefinisikan. Ketika dilahirkan—menurut Sartre—manusia belum merupakan apa-apa, baru berupa kemungkinan-kemungkinan, layaknya kertas putih kosong yang siap diisi. Tinta yang digunakan untuk mengisi kertas tersebut ialah bagaimana manusia tersebut membentuk dirinya sendiri. Ia ada dan merancang dirinya untuk bereksistensi. Manusia adalah sebagaimana ia menjadikan dirinya sendiri.

 

Maka dari itu, jika kita sepakat apa yang dikatakan Sartre, berarti manusia hidup dengan kebebasan sepenuhnya. Namun, kebebasan itu pula yang menimbulkan kecemasan yang mendalam, sebab masa depannya bergantung pada dirinya sendiri dan tak ada yang mampu menolongnya secara eksistensial. Kebebasan itu sendiri justru menimbulkan tanggung jawab yang besar.

 

Dalam esainya yang berjudul L’Être et le Néant (ada dan ketiadaan), berkali-kali Sartre menegaskan bahwa manusia condamne a etre libre (dihukum untuk bebas). Ia tak bisa berbuat lain kecuali menghayati kebebasannya. Karena itulah, ia tak bisa mengelak darinya.

 

Jika manusia dihukum menjadi bebas, ia bisa secara penuh membentuk diri dan hidupnya secara mandiri meskipun itu di luar keinginan-keinginan orang lain. Menjadi bencong itu sendiri merupakan jalan hidup yang ia pilih secara sadar serta bertanggung jawab. Maka sudah pasti, resiko-resiko dari menjadi berbeda pun akan terus ada, selama ia memegang teguh apa yang ia ingini.

0 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in OU pini

OU pini

Weathering with You: Film Animasi Jepang yang Masuk Oscar

Film animasi asal Jepang, ‘Weathering with You’ alias ‘Tenki no Ko’, sudah dapat disaksikan di layar lebar Indonesia sejak bulan Agustus 2019 lalu. Kalo kamu udah nonton filmnya yang berjudul ‘Your Name’ atau ‘Kimi no Na Wa’ yang rilis tahun 2016, pasti kamu nggak sabar untuk menyaksikan film karya sutradara yang sama, Makoto Shinkai. Atau…
OU pini

‘IT: Chapter Two’ Semakin Mencekam Dibanding Dua Tahun Lalu

Pada film IT tahun 2017 yang lalu, tujuh orang anak mempertaruhkan hidupnya mencoba menguak sosok misterius yang meneror dan menyebabkan hilangnya teman-teman mereka di Kota Derry, Maine, Amerika Serikat. Membentuk sebuah kelompok, mereka menamai diri sebagai The Losers Club. Keberanian dan kerja sama membuahkan keberhasilan dalam menguak siapa sosok misterius itu dan berhasil mengatasinya. Keberhasilan…
OU pini

Ibu Kota Pindah! Kira-kira Kenapa Ya?

Dari presiden pertama hingga ketujuh, sudah 74 tahun lamanya wacana pemindahan ibu kota kian terbit tenggelam. Tahun ini wacana pemindahan ibu kota baru resmi dikumandangkan oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo melalui konferensi pers di Istana Negara pada 26 Agustus 2019. Ibu kota baru tersebut akan berlokasi di sebagian Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kutai Kertanegara, Kalimantan…