Vosfoyer: From social media for a better social media

Edi Hartono & William Sudhana, Founders of VosFoyer

Pertemanan di media sosial melahirkan bisnis di industri lifestyle.

 

Social media sudah menjadi bagian sehari-hari kaum urban. Salah satu platform  yang paling gemar digunakan kalangan muda adalah Instagram. Berawal dari bertemu di social media, Edi Hartono dan William Sudhana akhirnya berkolaborasi membangun vosFoyer Indonesia. Sebuah bisnis di industri lifestyle  yang menawarkan jasa Content Creator Management dan Digital Strategy Consultancy.

Setelah bertemu di dunia maya, keduanya memutuskan untuk mengorganisir sebuah ‘instameet’ dengan beberapa content creator/influencer lainnya. Dari pertemuan itu terbentuklah sebuah komunitas. Komunitas ini membuat mereka sadar bahwa digital business adalah masa depan. Kemudian muncul lah sebuah ide untuk bisa mengembangkan komunitas yang telah ada ini menjadi bisnis yang menguntungkan. “Apa salahnya kalau kita bisa memanfaatkan pengaruh kita di media sosial untuk memberi impact positif bagi orang lain? Kita mau mendidik anak-anak muda untuk menjadi  influencer  yang baik, yang juga punya etika yang baik”, ungkap William yang merupakan lulusan dari The University of Nottingham  jurusan Electrical and Electronic Engineering.

Meskipun latar belakang pendidikan mereka bukan dari seni ataupun desain, keduanya mengaku selalu punya minat di bidang itu. Mereka selalu mengasah minat mereka di dunia kreatif, dari menekuni hobi fotografi dan desain. “Tahun 2008 mulai tertarik dengan fotografi, tapi baru ketemu platform yang pas di Instagram tahun 2014 ”, ujar Will  yang belakangan lebih sering menekuni fotografi analog. “Dari dulu memang suka arts. Tapi gak mau ambil jurusan arts  karena ketika mau ambil jurusan kuliah, desain itu belum booming dan dipandang sebelah mata. Selain itu juga gak  ada uangnya”, sambung Edi yang dulu kuliah jurusan Teknik Industry di Universitas Parahyangan.

"Kita mau mendidik anak-anak muda untuk menjadi influencer yang baik, yang juga punya etika yang baik."

Dari sekian banyak content creator yang mereka kenal, mengapa Edi & Will memutuskan untuk menjadi partner bisnis? Pola pikir dan visi yang sama jawabannya. Selain itu, pengalaman mereka bekerja 3-4 tahun di dunia corporate menguatkan visi mereka. Makanya setelah mengetahui mereka mempunyai visi yang sama, keduanya tidak ragu-ragu untuk memulai bisnis ini bersama.

Bulan April 2017 lalu, vosFoyer berhasil mengadakan sebuah creative movement bertajuk #JakartaRumahku. Event ini bertujuan untuk meningkatkan rasa cinta dan bangga warga Jakarta terhadap kota Jakarta, serta mengangkat potret kehidupan Jakarta dari berbagai sisi lewat karya visual. Keduanya mengungkapkan bahwa #JakartaRumahku merupakan proyek favorit mereka sejauh ini. “Kita berkolaborasi dengan banyak pihak. Dari konsep kecil kemudian eksekusinya ternyata sangat luas. Karena proyeknya itu dari online  menuju ke offline. Onlinenya ada website dan video, offlinenya ada photo exhibition dan workshop. Itu semua di luar ekspektasi.

Kita tidak pernah menduga untuk membuat acara sebesar itu dan dampaknya sangat besar. Banyak orang yang tanya kapan kita buat lagi dan banyak juga yang ingin berkolaborasi. Padahal sebelum itu jadi, kita benar-benar pusing karena itu proyek yang gila. Kita belum pernah buat proyek seperti itu”, jelas Will. “Biasanya untuk acara seperti itu persiapannya 6 bulan sampai satu tahun. Kita persiapannya cuma dalam 2 bulan. 2 bulan untuk buat video, kumpulin foto-foto, buat website, buat konsep acara offlinenya dan kumpulin orang-orang”, tambah Edi.

Kedepannya, mereka ingin berkolaborasi dengan pemerintah atau bahkan dengan Presiden Indonesia, bapak Joko Widodo, yang juga tidak asing dengan media sosial. “Kita ingin buat sesuatu untuk Indonesia, khususnya Jakarta. Kita ingin buat sesuatu untuk anak-anak muda. Karena generasi yang akan datang adalah anak-anak muda. Bagaimana caranya kita mendidik mereka lewat media sosial”, ujar Edi. Will pun menambahkan “Akan sangat menarik kalau kita berkolaborasi dengan kampus-kampus untuk mengajarkan digital marketing. Karena sekarang mungkin yang mengajar bukan praktisi, jadi yang diajarkan hanya sekedar teori. Kita bisa berbagi pengalaman kita, karena teori dan apa yang terjadi di lapangan itu sangat berbeda”. Di dunia digital di mana orang-orang ingin terkenal dengan cara singkat, Will menekankan kalau kita tidak boleh cut the process but enjoy the process. “Bukan masalah jumlah followersnya, tapi bagaimana kita bisa memberikan dampak yang bagus buat orang lain. Karena dengan begitu, followers  akan bertambah dengan sendirinya”, tambahnya.

Bisa belajar banyak hal baru dan mendorong dirinya melakukan hal di luar kemampuan adalah hal yang paling disukai Will dari pekerjaannya sekarang. “Karena jika kita berada dalam zona nyaman, ini adalah awal dari kehancuran kita”, ungkap Will. Moto hidupnya adalah ‘Jangan pernah berhenti belajar’. Dia pun banyak belajar dari teman-teman entrepreneur  yang sudah maju. Mengutip sebuah buku yang pernah dibacanya Will berkata “The best Entrepreneur teacher is another entrepreneur  karena meraka sudah pernah melakukannya (entrepreneurship)”. “That’s why kita juga tidak segan untuk membagikan ilmu ke orang-orang”, lanjut Edi.

vosFoyer terdaftar secara legal di awal tahun 2016 lalu, di umur bisnis yang masih sangat muda. VosFoyer yang berasal dari bahasa perancis ini punya arti ‘your home’ kini menjadi rumah bagi 12 orang pekerja.

Edi dan Will selalu berusaha menciptakan lingkungan kerja yang nyaman sehingga tim mereka merasa betah. Mereka menekankan kalau mereka ingin semua yang ada di vosFoyer untuk berkembang dengan talenta mereka masing-masing. “Karena yang kita bagikan di kantor bukan cuma wealth  tapi juga isi otak dan karakter. Kita harus belajar sendiri, bukan siapa yang mengajarkan kita. Kita sendiri harus punya mental untuk selalu belajar, cari hal-hal yang baru” ujar Will.

Mereka pun mengaku tidak pernah merasa takut untuk membagikan semua ilmu yang mereka punya kepada bawahan mereka. “Kalau nanti mereka buat bisnis sendiri, justru bagus. Karena artinya kita bisa menghasilkan orang-orang yang punya kualitas. Dia bisa buka lapangan kerja buat orang lain. Justru salahnya jika kita tidak mau orang lain maju. Itu juga bisa jadi bencana buat Indonesia sendiri. Kalau ilmu di simpan sendiri percuma. Kalau kita pintar, kita bagikan pada orang lain, orang lain juga jadi pintar. Jadinya bangsa kita jadi lebih pintar”.

"Bukan masalah jumlah followersnya, tapi bagaimana kita bisa memberikan dampak yang bagus buat orang lain."

Sebagai Creative Director di vosFoyer, Edi mengaku dia paling suka dengan kesempatan untuk berkenalan dengan orang-orang baru dan belajar dari mereka. “Pasti orang-orang pola pikirnya berbeda-beda, dan ketika mereka berbagi pikiran mereka, disitu saya belajar. Itu paling menarik”. Selain itu, Edi juga menyebutkan kalau bisa menyekolahkan 2 orang adiknya yang saat ini masing- masing sedang menempuh pendidikan di Universitas Bina Nusantara dan Universitas Tarumanegara adalah pencapaian terbesar dalam hidupnya. Di usia mereka yang tergolong muda, di bawah 30 tahun, Edi dan Will telah berani mencemplungkan diri mereka di dunia entrepreneurship. Hasilnya sudah mulai terlihat. Lalu apa cita-cita mereka 5 tahun dan 10 tahun kedepan? Will yang menyebut dirinya sebagai Chief Everything Officer di vosFoyer (“Karena sebelum jadi Executive harus jadi Everything dulu”) menjawab kalau dalam 5 tahun dia pasti tetap jadi entrepreneur, ingin jadi orang yang berbagi ke orang lain dan jadi inspirasi buat orang lain. Begitu juga dengan 10 tahun kedepan. Yang membedakan 5 tahun dan 10 tahun adalah jumlah dan daya influencenya. Sedangkan Edi menjawab kalau dia tidak mau muluk-muluk. Dia ingin terus mengembangkan kemampuannya, menjaga pertemanan dan misi mereka untuk memberikan dampak positif ke orang-orang. Khususnya ke generasi muda dan teman-teman yang mau belajar.

“Intinya kita mau buat platform di mana orang-orang bisa menjadi creator yang baik karena kita percaya digital is the future. Semua orang mau jadi influencer, semua orang mau jadi blogger. Siapa yang mengurus mereka? Tentu saja VosFoyer, karena visi kita adalah membuat sebuah platform itu”.

VosFoyer saat ini sedang bekerja untuk mengadakan kampanye #JakartaRumahku 2 yang direncanakan akan diadakan di awal tahun 2018.

Fun Corner

Kalau boleh punya satu Super power, mau punya super power apa

W: Pindah-pindah tempat, karena paling gak suka buang-buang waktu di jalan

E: Kayak Gal gadot, menghancurkan kejahatan, membuat semua orang jadi baik

Kalau boleh jadi satu super hero yang sudah ada sekarang mau jadi siapa

W: Thor! Thor super keren!

E: Superman, kan mau memberantas kejahatan dan menyelamatkan kota. Juga karena dulu suka makan coklat Superman

Kalau boleh jadi satu kartun karakter mau jadi siapa

W: Dora the Explorer, menjelajah kemana-mana

E: Doraemon, karena dia punya semuanya, jadi bisa memberantas kejahatan

Kalau cuma boleh makan satu makanan dan minuman seumur hidup, mau makan dan minum apa

W: Nasi goreng abang tek-tek dan es teh tawar

E: Air mineral, biar sehat dan bisa memberantas kejahatan. Makanan bingung karena hobi makan. Tapi kalau cuma boleh satu, ayam goreng mentega buatan papa yang sekarang udah bisa dimasak sendiri

29 comments

  1. Pingback: space
  2. Pingback: Mp3
  3. Pingback: Darknet
  4. Pingback: Buy Focalin Online

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in OU in Love

OU in Love

Musik Yang Membuat RIOKTAG Jatuh Cinta

Dari begitu banyaknya hal indah di dunia, musik seringkali menjadi salah satu elemen yang masuk dalam kategori indah tersebut. Musik dianggap mampu mengubahkan dunia melalui lantunan nada dan liriknya serta mampu menginspirasi kehidupan begitu banyak manusia.   Banyak orang yang mencintai musik namun tidak berani melangkah jauh guna memenuhi kecintaan mereka tersebut. Dan bagi Rio…
OU in Love

Abenk Alter: Mengejar Mimpi Melalui Panggilan Hati

Lebih dahulu dikenal sebagai salah satu vokalis dari band ternama tanah air Soulvibe, Abenk Alter yang memiliki nama asli Rizqi Ranadireksa mulai beralih karier sebagai seorang seniman dalam satu tahun belakangan ini. Berbekal hobi serta kegemarannya melukis sedari dini, Abenk membulatkan tekad untuk keluar dari band yang telah membesarkan namanya dan serius menekuni ilmu dalam…
OU in Love

Gianni Fajri – Up and Rising Indonesian Female Director

Sukses mengeluarkan satu film pendek dan tengah mengerjakan film pendeknya yang kedua, Gianni is on her way to become Indonesia‘s next generation of film maker.   Observant, calm and vibrant, itu adalah 3 kata yang dipilih Ghyan, sapaan akrab Gianni, untuk mendeskripsikan dirinya. Mengaku bukan introvert maupun extrovert, karena kadang bisa berbaur dengan banyak orang…
OU in Love

Novia Achmadi – Graphic Designer, Hand-Lettering Artist & founder of Kallos

Ditemui di kediamannya suatu Sabtu siang, Novia yang menggunakan busana hitam-hitam menyambut saya dengan ramah di depan pagar. Setelah masuk ke dalam ruang tamu, saya langsung disambut oleh dua ekor kucing. Setelah berbincang-bincang, saya mengetahui bahwa wanita penyuka warna pink blush ini ternyata adalah seorang pecinta binatang. Dia sempat ingin memelihara ular dan anjing, tapi…