Veronica Halim: Kisah Indah Sang Penulis Indah

Kisah sang graphic designer juga caligraphist

Hobi yang mulai ditekuni karena bosan, berubah menjadi buku yang diterbitkan di Jepang dalam kurun waktu kurang dari 4 tahun.“Nothing is planned ,everything started from one thing led to another”, begitulah ungkap Veronica tentang karirnya di dunia kaligrafi. Tak disangka, hobi yang mulai ditekuninya karena bosan bekerja ini, kini telah melahirkan sebuah buku terbitan Jepang. Bahkan, dirinya sudah mengadakan puluhan workshop, baik di dalam maupun luar negeri, serta kerjasama dengan berbagai brand ternama. Walaupun sudah mengenal kaligrafi dari lama, namun baru 4 tahun ini Veronica menekuni kaligrafi dengan serius.

Mengapa kaligrafi dan bukan medium seni lainnya?

 

Menurutnya, jaman sekarang orang terlalu sering menggunakan komputer dan handphone dan tak pernah menulis lagi secara manual. Semenjak itu dia mulai latihan kaligrafi lagi setiap hari. “Just for fun”,  tambahnya. Awalnya dia hanya membuka workshop kaligrafi bagi teman-temannya. Walaupun sebenarnya dirinya masih kurang percaya diri, namun ia menuruti permintaan teman-temannya tersebut. “Tidak pernah ada rencana untuk mengajar or make it (kaligrafi) for work. Gara-gara iseng, terus banyak teman yang tau dan akhirnya minta untuk diajarin. Gara-gara workshop dengan teman-temannya itu, dirinya akhirnya berani membuka kelas pertamanya untuk umum.

 

Veronica sering menggugah hasil karya kaligrafinya di akun Instragram pribadinya @truffypiSemakin banyak orang-orang yang tertarik untuk belajar bersamanya. Maka dari itu, kelas kaligrafi Veronica tidak pernah berhenti sampai saat ini. “Everything is not planned”, celetuknya.

Veronica sampai bisa mulai workshop kaligrafi di Jepang berkat seringnya ia mengunjungi negeri sakura tersebut. Setelah membuka satu kelas, ternyata banyak waiting lists. Sekarang, setiap kali Veronica mengujungi Jepang, dia pasti akan mengadakan beberapa kelas kaligrafi. Workshops kaligrafi Veronica pun sudah membuahkan hasil, karena beberapa muridnya sudah menjadikan kaligrafi sebagai profesi dan bahkan murid di Jepang sekarang ada yang sudah mulai mengajar kaligrafi.

"Nothing is planned,everything started from one thing led to another."

Ditemui saat sedang mengadakan workshopnya di salah satu coffee shop di daerah Muara Karang,Veronica mengatakan bahwa menekuni kaligrafi sangat relaxing dibandingkan melakukan pekerjaan dia yang lainnya. Veronica memang punya banyak kesibukan lain selain kaligrafi. Dia dan suaminya, Steve Budihardjo, sama-sama berprofesi sebagai desainer grafis, dan mendirikan branding studio bernama Shft sejak tahun 2003 ketika keduanya masih berpacaran.

Latar belakang Veronica memang adalah sebagai desainer grafis. Lulus dari Swirnburne University jurusan Visual Communication, dia sempat belajar bahasa mandarin di Shanghai sambil bekerja di salah satu perusahaan interior lokal, kemudian kembali ke Indonesia dan bekerja selama 3 tahun di perusahaan New Age. Setelah itu dia memutuskan untuk bekerja freelance dengan suaminya (dulu masih pacaran), sampai akhirnya keduanya membentuk Shft. Sekarang usaha mereka yang sudah berjalan selama 14 tahun ini lebih fokus kepada website dan web application dibandingkan fokus awal mereka yang adalah corporate design, branding and packaging.  Menurut Veronica, pekerjaan ini terasa sangat serius dan tidak memberikan dia ruang untuk bereksperimen, karena bagaimanapun desain yang dibuat harus mengikuti kemauan klien. Karena keinginannya untuk bereksperimenlah Veronica akhirnya mulai mengambil tawaran kerja proyek kaligrafi, yang tak hanya sekedar mengajar kelas, tapi juga menerima pesanan proyek wedding, events dan kolaborasi merchandise. Sejauhini karena kaligrafi, Veronica sudah pernah berkolaborasi dengan brand ternama seperti Chanel, Dior dan TWG.

Ketika ditanya apa pencapaian terbesarnya sejau ini Veronica dengan pasti menjawab bahwa hal itu pastilah adalah bukunya Caligraphy Styling (カリグラフィー·スタリグ).  Setelah melakukan sekian banyak workshop di Jepang, Veronica diberi kesempatan oleh Shufunotomo, salah satu penerbit tertua di Jepang, yang telah berdiri sejak 1916, untuk menerbitkan buku kaligrafi. Tawaran ini datang dari temannya yang adalah seorang editor majalah. Awalnya Veronica sempat ragu tapi akhirnya memberanikan diri untuk tidak melewatkan kesempatan emas ini. “I  think book is something that really serious. In order to write a book you need to really be an expert at something and I think I’m not on thatl evel yet“, ungkap Veronica. Akhirnya disepakati bahwa buku yang akan ditulis akan berhubungan dengan lifestyle, something more fun. “Because a lot of people like your style and how you use caligraphy on daily basis”,ujar Veronica mengutip kata-kata sang teman editor. Proses pembuatan buku ini pun termasuk singkat, yaitu 6 bulan. Dimulai dari Oktober 2016 sampai akhirnya di terbitkan bulan Maret 2017. Buku yang sepenuhnya berbahasa Jepang ini dapat ditemukan di berbagai toko buka di seluruh Jepang. Kalian bisa membelinya di Amazon Japan (https://www.amazon.co.jp/dp/4074193604) dan di Kinokuniya Indonesia.

“I take a lot of inspiration from packaging, brands, and also old master penman, for reference and inspiration” ungkap Veronica. Dia menyebut Buly, sebuah brand asal Perancis sebagai salah satu sumber inspirasinya. Selain itu, browsing around (di internet) dan membuat moodboard  juga adalah cara lain untuk mencari inspirasi.

"because a lot of people like your style and how you use caligraphy on daily basis."

Wanita yang mendeskripsikan karya-karya sebagai elegant, classic and timeless ini pun tengah berencana untuk membuka semi custom wedding invitations line. Alasannya karena, walaupun banyak klien yang berniat untuk custom made their wedding invitations, tapi prosesnya itu sangat memakan waktu. Selain itu fully custom made berarti harganya juga akan sangat mahal. Proyek ini berniat untuk menjawab masalah itu. “That’s why, I’m planning to do it”, ujarnya. Mengerjakan berbagai macam proyek dan bisnis sekaligus, Veronica menyebutkan dia tidak merasa terbeban karena semua yang dilakukan adalah passionnya. Kalau punya waktu luang, dia juga ingin belajar berbagai hal baru diantaranya painting dan ceramic making.

Menurut wanita yang mengaku bisa bekerja kapan saja, pagi ataupun malam ini, kemajuan kaligrafi di Indonesia saat ini sudah lumayan berkembang. “Anak-anak muda sekarang banyak tertarik untuk belajar kaligrafi, because I think writing is the basic thing that everybody cando. I’m happy to see how the industry is growing“, ujarnya.Walaupun sampai sekarang masih sangat susah untuk mencari alat-alat kaligrafi, kebanyakan harus diimpor sendiri dari luar, hal itu tidak menjadi kendala untuk mendalami hobi ini. Sedikit-sedikit sudah mulai ada art store di Indonesia yang menjual alat-alat kaligrafi walau produknya masih impor.

Pesannya untuk orang-orang yang ingin belajar kaligrafi adalah untuk terus belajar rutin setiap hari. “Belajar kaligrafi perlu kesabaran, dedikasi dan konsistensi. Doesn’t matter tulisan tangan itu rapi atau tidak, itu tidak pengaruh ke kaligrafi, yang penting keep on practicing“, jelas Veronica.

13 comments

  1. Pingback: Azira Torbor
  2. Pingback: wire qwest
  3. Pingback: porn
  4. Pingback: 사설토토
  5. Pingback: 바카라사이트
  6. Pingback: 카지노사이트
  7. Pingback: Diana
  8. Pingback: daftar jaguarqq
  9. Pingback: daftar taipanqq

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Interview

OU in Love

Abenk Alter: Mengejar Mimpi Melalui Panggilan Hati

Lebih dahulu dikenal sebagai salah satu vokalis dari band ternama tanah air Soulvibe, Abenk Alter yang memiliki nama asli Rizqi Ranadireksa mulai beralih karier sebagai seorang seniman dalam satu tahun belakangan ini. Berbekal hobi serta kegemarannya melukis sedari dini, Abenk membulatkan tekad untuk keluar dari band yang telah membesarkan namanya dan serius menekuni ilmu dalam…
OU in Love

Gianni Fajri – Up and Rising Indonesian Female Director

Sukses mengeluarkan satu film pendek dan tengah mengerjakan film pendeknya yang kedua, Gianni is on her way to become Indonesia‘s next generation of film maker.   Observant, calm and vibrant, itu adalah 3 kata yang dipilih Ghyan, sapaan akrab Gianni, untuk mendeskripsikan dirinya. Mengaku bukan introvert maupun extrovert, karena kadang bisa berbaur dengan banyak orang…
OU in Love

Novia Achmadi – Graphic Designer, Hand-Lettering Artist & founder of Kallos

Ditemui di kediamannya suatu Sabtu siang, Novia yang menggunakan busana hitam-hitam menyambut saya dengan ramah di depan pagar. Setelah masuk ke dalam ruang tamu, saya langsung disambut oleh dua ekor kucing. Setelah berbincang-bincang, saya mengetahui bahwa wanita penyuka warna pink blush ini ternyata adalah seorang pecinta binatang. Dia sempat ingin memelihara ular dan anjing, tapi…
OU in Love

Veronica Halim: Kisah Indah Sang Penulis Indah

Kisah sang graphic designer juga caligraphist Hobi yang mulai ditekuni karena bosan, berubah menjadi buku yang diterbitkan di Jepang dalam kurun waktu kurang dari 4 tahun.“Nothing is planned ,everything started from one thing led to another”, begitulah ungkap Veronica tentang karirnya di dunia kaligrafi. Tak disangka, hobi yang mulai ditekuninya karena bosan bekerja ini, kini telah melahirkan…