Novia Achmadi – Graphic Designer, Hand-Lettering Artist & founder of Kallos

Graphic designer by day, hand-lettering artist by night, animal lover all day, everyday!

Ditemui di kediamannya suatu Sabtu siang, Novia yang menggunakan busana hitam-hitam menyambut saya dengan ramah di depan pagar. Setelah masuk ke dalam ruang tamu, saya langsung disambut oleh dua ekor kucing. Setelah berbincang-bincang, saya mengetahui bahwa wanita penyuka warna pink blush ini ternyata adalah seorang pecinta binatang. Dia sempat ingin memelihara ular dan anjing, tapi karena kondisi yang tidak memungkinkan, dia harus puas dengan memelihara 5 ekor kucing saja dalam rumahnya untuk saat ini.

 

Novia adalah pribadi yang cukup sibuk. Siang hari dia bekerja kantoran sebagai desainer grafis di salah satu advertising agency di Jakarta dan di malam hari dan di akhir pekan dia berkutat dengan proyek hand-lettering studionya, Kallos. Sejauh ini, goresan tangan Novia lewat Kallos telah menghiasi berbagai jenis barang kliennya termasuk motor, helm, jaket, papan skate, mural, menu board atau bahkan tembok rumah orang dan masih banyak lagi.

 

Bagaimana awalnya Novia berkecimpung di dunia hand-lettering dan bagaimana cara dia membagi waktu dengan semua kesibukannya? Berikut percakapan kami dengan Novia.

 

Pendidikan: DKV Bina Nusantara University
Pekerjaan: Desainer grafis, hand-lettering artist dan pendiri Kallos

Umur: 27 tahun
Nama kucing : Elmo (anggora), Kiss (mommy cat), Bambi, Luna, Gonzo Nama rekan di Kallos Design: Marco Adriaansz, Aqilla Meidywita

Bagaimana ceritanya sampai kamu memilih dan mendalami hand-lettering dan ilustrasi?

 

Kenapa hand-lettering, karena sebagai desainer grafis memang banyak berhubungan dengan tipografi. Waktu mendalami tipografi, sering menggambar huruf. Dulu belum banyak orang yang mendalami hal itu, jadi aku pikir sekalian saja didalami untuk mengangkat tipografi. Karena sekarang tipografi kebanyakan dibuat secara digital. Banyak yang lupa manual hand-lettering. Jadi aku ingin mengangkat hal itu lagi. Mulai pick up hand-lettering tahun 2012 akhir dan mulai didalami dengan serius tahun 2013.

 

Kalau ilustrasi, aku sudah suka gambar dari dulu. Jadi sebenarnya aku itu illustrator dulu sebelum jadi desainer grafis. Dari kecil memang sudah hobi menggambar, dan memang waktu mau pilih jurusan kuliah waktu kelas 3 SMA sudah yakin mau masuk DKV Binus.

 

Alasannya karena DKV Binus sudah terkenal bagus dan juga karena jaraknya dekat dari rumah. Untungnya keluarga mendukung keputusan ini, walaupun gak ada dari mereka yang punya background seni.

 

Bagaimana awal mula kamu mendirikan Kallos? Coba ceritakan perjalanannya?

 

Awalnya mendirikan Kallos sendiri di pertengahan 2013. Kallos sendiri adalah kata dasar dari kaligrafi dalam bahasa yunani yang artinya cantik. Karena sebagai hand-lettering artist, sudah tugas kita untuk mempercantik kata-kata dan tulisan. Jadi menurut aku, it goes with the name.

 

Karena aku melihat hand-lettering ini ada peluang dan bisa make money, jadi diseriusin.

 

Awalnya kliennya teman-teman sendiri. Fokusnya lebih banyak di bidang motor costume culture, karena tahun 2013-2014 itu lagi naik-naiknya, jadi kita naik bareng. Dari teman-teman lingkungan situ baru banyak orang-orang lain nemu di Instagram. Promosinya kebanyakan lewat Instagram, karena dari Instagram semua proses jadi serba cepat. Bisa update sekedar sketsa ataupun proses kerja aku.

 

Sekarang Kallos sudah berkembang, sudah 3 orang. Fokusnya juga lebih meluas gak terbatas ke hand-lettering saja. Kita baru saja launching, ada Kallos Design yang menawarkan jasa branding, website design, programming, digital content, packaging dan apapun yang berhubungan dengan desain. Dua orang lain yang membantu Kallos Design antara lain pacarku Marco yang adalah desainer grafis dan programmer, dan Aqilla Meidywita yang adalah akuntan sekaligus client relation.

"Kallos sendiri adalah kata dasar dari kaligrafi dalam bahasa yunani yang artinya cantik. Karena sebagai hand-lettering artist, sudah tugas kita untuk mempercantik kata-kata dan tulisan."

Selain Kallos, apakah kamu punya pekerjaan lain? Coba ceritakan perjalanan karir kamu!

 

Iya, jadi setiap hari aku kerja sebagai graphic designer di Bates Chi & Partners. Sebelumnya sempat kerja di Thinking*Room tahun 2012-2013 dan di JWT tahun 2013-2016.

 

Bagaimana kamu membagi waktu antara Kallos dan pekerjaan kamu setiap hari? Apakah kedua pekerjaan ini tidak saling mengganggu, dan bagaimana kamu mengatasinya?

 

Awalnya susah, karena waktu untuk kerja buat Kallos cuma weekend dan malam setelah pulang kerja. Suka keteteran, jadi sering bergadang. Tapi lama-lama jadi biasa. Untuk mengatur waktu, setiap proyek di Kallos, sudah dikasih tau ke klien, butuh berapa lama waktu pengerjaan. Gak mau janjiin cepat-cepat terus keteteran. Sebenarnya lama waktunya bukan lama ngecatnya tapi karena harus bolak balik minta approval sketsa desain dengan klien. Dengan kasih tau timeline itu sangat membantu agar gak keteteran.

 

Pernah juga merasa waktunya gak cukup untuk seminggu antara kerja kantoran dan Kallos. Makanya setelah 3.5 tahun kerja di JWT, aku resign untuk fokus di Kallos. Sekitar 3 bulan fokus di Kallos, akhirnya ada tawaran untuk kerja di Bates dan menurut aku Bates ini adalah salah satu agensi yang keren. Sebenarnya gak mau kerja kantoran dulu, tapi karena kesempatan datang jadi diambil dulu saja. Jadi sekarang mulai membagi waktu lagi.

 

Coba deskripsikan tempat kerja kamu?

 

Working spacenya dirumah, yaitu di ruang tamu. Kita jarang kedatangan tamu, jadi ruang tamunya memang jarang dipakai. Mama sebenarnya yang desain ruangannya. Dindingnya memang sengaja gak diplaster. Mama juga suka interior etnik kayu. Hasilnya ruangan ini berasa homey, nuansanya hangat. Jadi kalau kerja gak stres. Karya-karya aku juga beberapa dipajang disini tapi kebanyakan yang disimpan itu adalah barang bekas pameran atau hasil latihan sendiri. Karena kalau produk yang lain kan sudah ada di klien setelah selesai dibuat.

 

Kamu kan punya 5 kucing, apakah tidak terganggu dengan kehadiran mereka saat kerja?

 

Enaknya punya kucing, kalau kerja malam ada yang menemani. Gak enaknya mereka suka mainin perintilan, seperti kuas dan barang- barang kecil lainnya.

"Enaknya punya kucing, kalau kerja malam ada yang menemani."

Apa kamu punya ritual sebelum atau saat kerja?

 

Suka ngecek barang-barang dulu ada yang hilang atau tidak. Takutnya dimainin kucing. Terus suka ngecek juga tinernya takut tumpah. Karena tiner itu kan barang yang punya resiko tinggi. Paling juga sediain lap kalau mau mulai gambar. Dan suka dengerin musik pake headset biar gak ganggu orang rumah.

 

Waktu kamu lumayan padat, kerja dari pagi sampai siang di kantor, malam dan weekend untuk Kallos. Apakah masih ada waktu untuk melakukan hobi lain dan hang out dengan teman-teman?

 

Sebenernya aku orang rumahan banget. Lebih suka tinggal di rumah. Kalo pergi sama teman-teman lebih milih weekdays, seperti Jumat malam. Sabtu dan Minggu biasanya waktu untuk diri sendiri. Either kerja untuk Kallos atau gambar-gambar buat melatih skills endiri.

 

Kalau pergi keluarpun palingan nonton atau Muay Thai. Muay Thai itu olahraga rutin, paling tidak 2 kali seminggu. Sekali-kali juga sempatin buat traveling dan diving.

 

Pernah mengalami artblock? Kalau iya, bagaimana cara mengatasinya?

 

Pernah. Cara mengatasinya adalah lakukan saja. Tetap gambar. Cari inspirasi. Kadang kalau dipaksakan mungkin hasilnya jadi kurang bagus. Tapi itu tidak apa-apa. Tetap saja dilakukan, nanti kita juga akan belajar dari kesalahan itu.

Biasanya cari inspirasi dari mana? Adakah orang-orang yang menginspirasi kamu?

 

Dari internet. Behance atau Instagram. Instagram sih paling gampang karena semua a rtists sekarang pakai Instagram. Beberapa akun Instagram yang menginspirasi aku adalah @ornamentalconifer, @alyssamees, @homsweethom, @_dotpigeon, @baotpham, @fra_vullo dan @charmaineolivia.

 

Apa proyek favorit kamu sejauh ini?

 

Salah satu jaket yang aku buat masuk ke buku Good Type. Jadi itu adalah akun Instagram yang mengkurasi hasil-hasil hand-letering. Suatu saat mereka open submission karya-karya orang untuk dimasukan kedalam sebuah buku. Jadi aku pernah hand-lettering di jaket buat klien. Nah, fotonya aku kirim ke mereka (Good Type) dan akhirnya dipilih dan dimasukin ke dalam buku ini. Aku suka karya ini (hand-lettering di jaket), karena waktu mengerjakannya enak, permukaannya halus, dan warnanya juga bagus. Proses pembuatanya bisa dibilang enjoyable. Ketika ternyata terpilih untuk dimasukkan ke buku aku sangat senang. Produknya adalah jaket kulit. Pengecatannya makan waktu 2 hari, karena ada bagian yang harus ditimpa, seperti warna biru diatas putih gading. Jadi memang harus tunggu catnya kering dulu, kalau tidak teksturnya nanti jadi jelek. Klien cuma kasih tau mau tulisan apa, desain, warna dan sketsanya dari aku. Setelah disetujui klien, baru mulai dieksekusi. Buku ini dicetak tahun 2015.

 

Kalau bisa pilih satu kata untuk mendeskripsikan style lettering kamu, kamu akan pilih kata apa?

 

Kontradiktif. Karena awalnya kerja hand-lettering aku dari bidang permotoran. Aku berusaha untuk taruh sentuhan cewek di dunia cowok. Suka menggabungkan hal yang laki-laki banget sepert itangki motor tapi mungkin pakai warna yang soft. Aku suka liat kontrasnya.

"Awalnya kerja hand-lettering aku dari bidang permotoran. Aku berusaha untuk taruh sentuhan cewek di dunia cowok. Suka menggabungkan hal yang laki-laki banget sepert itangki motor tapi mungkin pakai warna yang soft."

Apa yang kamu anggap pencapaian terbesar kamu sejauh ini?

 

Mungkin ini hal kecil, tapi bagi aku ini hal besar. Waktu itu pernah diminta untuk mengajar di salah satu Universitas di Bandung yaitu Institut Teknologi Nasional. Yang diajari adalah mahasiswa baru yang lagi dalam masa orientasi. Jadi kampusnya mengundang beberapa tutor untuk mengajar desain dan bisnis. Untuk mengajar itu perlu skill khusus untuk bisa bikin orang mengerti. Sebenarnya aku gak bisa mengajar, karena memang belum pernah mengajar sebelumnya. Gak ada pengalaman dan gak punya skill itu, tapi akhirnya memberanikan diri dan akhirnya bisa mengajar juga. Hal itu bisa dilalui jadi bikin aku senang.

 

Apakah kamu punya dream project?

 

Ada. Ingin buat merchandise sendiri. Sekarang kan kebanyakan hasil karyanya based on client. Ingin buat sesuatu yang memang punya sendiri. Ingin jual print, kaos, pin, dan lain-lain. Sudah ada rencana, kira-kira tahun ini mau dimulai. Sejauh ini sudah mulai kecil-kecilan jualan kaos dan pin online.

 

Kalau bisa pilih untuk kolaborasi dengan siapapun, mau kolaborasi dengan siapa?

 

Karena aku juga tertarik dengan fashion, aku mau kolaborasi untuk buat clothing line, yang jual jaket,yang bahannya faux leather. Karena aku gak suka the idea to use genuine leather. Salah satunya karena aku adalah pecinta binatang. Sampai sekarang belum bertemu dengan vendor yang nawarin faux leather, semuanya genuine leather.

 

Apakah kamu punya role model?

 

Role model aku adalah Kate Von D. Dia seorang ilustrator, tato artis, punya make up line, dia juga seorang aktivis pecinta binatang. Dia hebat, walau melakukan banyak hal dia melakukan semuanya dengan maksimal. Aku gak mengerti bagaimana dia membagi jadwalnya setiap hari sampai bisa melakukan semua kesibukan itu.

Menurut kamu bagaimana kemajuan hand-lettering di Indonesia?

 

Banyak banget di Instagram, di berbagai macam kota ada. Sudah semakin merambah. Mungkin karena media sosial menyebarnya gampang dan luas. Jadi banyak yang tertarik dan terinspirasi untuk mulai sendiri.

 

Bagaimana dengan komunitas hand-lettering di Indonesia?

 

Ada. Namanya Kaligrafina. Mereka suka mengumpulkan hand-lettering artist buat acara-acara. Menurut aku mereka keren banget. Kadang aku suka diajak juga. Dulu pernah diundang untuk acara pembukaan Taman Pandang Istana. Itu dibuat oleh desainer yang juga mengajar di Binus, namanya Yasser Rizky. Aku senang bisa berpartisipasi di acara itu.

 

Apa kutipan favorit kamu?

 

Tertulis di helm yang dipajang di ruang kerja, yaitu “Trust your struggle”. Alasannya karena walaupun semua yang kita lalui itu susah, gak apa-apa, dilakukan saja. Karena memang itu jalan yang harus kita tempuh, dan percaya saja sama cita-cita kita dan kenapa kita mulai menjalani itu semua.

4 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Interview

OU in Love

Abenk Alter: Mengejar Mimpi Melalui Panggilan Hati

Lebih dahulu dikenal sebagai salah satu vokalis dari band ternama tanah air Soulvibe, Abenk Alter yang memiliki nama asli Rizqi Ranadireksa mulai beralih karier sebagai seorang seniman dalam satu tahun belakangan ini. Berbekal hobi serta kegemarannya melukis sedari dini, Abenk membulatkan tekad untuk keluar dari band yang telah membesarkan namanya dan serius menekuni ilmu dalam…
OU in Love

Gianni Fajri – Up and Rising Indonesian Female Director

Sukses mengeluarkan satu film pendek dan tengah mengerjakan film pendeknya yang kedua, Gianni is on her way to become Indonesia‘s next generation of film maker.   Observant, calm and vibrant, itu adalah 3 kata yang dipilih Ghyan, sapaan akrab Gianni, untuk mendeskripsikan dirinya. Mengaku bukan introvert maupun extrovert, karena kadang bisa berbaur dengan banyak orang…
OU in Love

Novia Achmadi – Graphic Designer, Hand-Lettering Artist & founder of Kallos

Ditemui di kediamannya suatu Sabtu siang, Novia yang menggunakan busana hitam-hitam menyambut saya dengan ramah di depan pagar. Setelah masuk ke dalam ruang tamu, saya langsung disambut oleh dua ekor kucing. Setelah berbincang-bincang, saya mengetahui bahwa wanita penyuka warna pink blush ini ternyata adalah seorang pecinta binatang. Dia sempat ingin memelihara ular dan anjing, tapi…
OU in Love

Veronica Halim: Kisah Indah Sang Penulis Indah

Kisah sang graphic designer juga caligraphist Hobi yang mulai ditekuni karena bosan, berubah menjadi buku yang diterbitkan di Jepang dalam kurun waktu kurang dari 4 tahun.“Nothing is planned ,everything started from one thing led to another”, begitulah ungkap Veronica tentang karirnya di dunia kaligrafi. Tak disangka, hobi yang mulai ditekuninya karena bosan bekerja ini, kini telah melahirkan…