Gianni Fajri – Up and Rising Indonesian Female Director

Sukses mengeluarkan satu film pendek dan tengah mengerjakan film pendeknya yang kedua, Gianni is on her way to become Indonesias next generation of film maker.

 

Observant, calm and vibrant, itu adalah 3 kata yang dipilih Ghyan, sapaan akrab Gianni, untuk mendeskripsikan dirinya. Mengaku bukan introvert maupun extrovert, karena kadang bisa berbaur dengan banyak orang dan kadang lebih memilih sendiri, Ghyan yang merupakan lulusan La Salle College tahun 2012 ini sekarang disibukkan dengan dua pekerjaannya di Maji Piktura dan Pon Your Tone.

 

Walaupun profesinya yang sekarang tidak begitu sejalan dengan jurusan kuliahnya dulu, kesuksesan wanita pecinta keju, truffle oil, sambel dan pete ini di dunia film making diawali ketika dia masih berkuliah di jurusan fashion bisnis. Sewaktu kuliah Ghyan mendapat projek mengerjakan tugas kuliah yaitu membuat fashion brand sendiri. Demi mempromosikan fashion brand kreasinya tersebutlah, Ghyan mulai coba-coba bermain dengan kamera dan video. Tak disangka-sangka, hal itu menuntun Ghyan ke arah kesuksesannya hari ini. Selain itu, ilmu-ilmu bisnis dan marketing yang dipelajarinya dulu juga tetap bisa diaplikasikan ke pekerjaannya sekarang.

 

Mengaku tidak mengkonsumsi minuman berwarna lain selain air putih dan kopi, sejauh ini,  Ghyan telah banyak dipercayai untuk mengerjakan berbagai behind the scene film (Filosofi Kopi, Surat dari Praha, Sundul Gan: The Story of Kaskus), music videos (MALIQ & D’Essentials, Nidji, Andien), dan berkolaborasi dengan berbagai brand dan perusahaan ternama di Indonesia (Ismaya, Cotton Ink, Tokopedia, Aqua) untuk mempromosikan produk mereka lewat kacamata estetika Ghyan.

 

Bagaimana perjalanannya hingga sampai ke titik ini, dan apakah mimpi-mimpi dan langkah Ghyan selanjutnya? Kenali Ghyan lebih lanjut melalui interview dibawah ini.

 

Bagaimana ceritanya sampai kamu bisa terjun ke dunia film?

Awalnya karena aku suka visual, aku suka foto. Dulu suka foto pakai kamera, bantuin bikin buku tahunan waktu sma. Selain itu waktu kuliah aku ambil jurusan fashion bisnis. Mama aku itu seorang desainer. Dulu pikirnya kita bisa kolaborasi. Tapi ternyata dari hobi foto itu keterusan jalan sampai ke waktu kuliah. Jaman sekarang kamera bukan cuma bisa foto tapi juga bisa video, jadi aku coba-coba pake fitur videonya juga. Aku suka musik juga kan, jadi kalau dikombinasikan semuanya jadilah film. Jadi kenapa film making? Karena itu adalah media yang perfect untuk merealisasikan apa yang mau aku sampaikan. Walaupun awalnya memang dari hobi.

 

Terus biasanya tugas akhir waktu kuliah adalah untuk bikin brand baju. Jadi ada aspek foto dan videonya. Kalau temen-temen ngehire orang lain untuk mengerjakan itu karena basicnya marketing. Kalau aku malah mengerjakan itu sendiri, aku mencoba mengulik sendiri. Rekam video dan diedit sendiri. Semenjak itu semua teman yang punya fashion brand aku yang kerjakan videonya. Terus mulai ngerjain music video. Akhirnya ada temen yang di dunia perfilman bilang, ‘Gi, kamu kan suka video, kalau buat behind the scene video mau gak?’. Aku langsung bilang ‘Mau banget lah!’. Aku kan gak sekolah film, jadi ini kesempatan aku buat bisa belajar. Dari situ aku terjun di behind the scene film. Waktu itu mengerjakan Filosofi Kopi yang pertama, yang disutradarai sama Angga Dwimas Sasongko. Setelah itu Angga bilang ke aku ‘Kamu harus buat film’. Jadi dia encourage aku untuk buat film. Tahun ini aku baru mendirikan production house. Dulu masih seru-seruan aja, sekarang sudah mulai banyak inquiry jadi ya sudah saatnya punya production house sendiri.

 

 

Jurusan kuliah kamu berbeda dengan profesi kamu sekarang. Bagaimana caranya kamu belajar?

 

Film making aku memang gak sekolah. Aku juga memang gak memahami secara teknis. Kalo teknis mungkin harus sekolah. Aku lebih ke big ideanya. Dan semua teknis aku bisa belajar dari internet. Aku berawal dari editing. Internet helps me a lot. Pengalaman aku dibantu dengan langsung terjun ke behind the scene film. Sejauh ini aku sudah mengerjakan 5 behind the scene film. Dari situ aku sudah lumayan belajar banyak tentang film making. Karena aku ikutan syutingnya, walaupun jadi ghostnya aja, merekam semua aktivitas. Biasanya timnya 5 orang, termasuk videografer, editor dan aku sebagai sutradara. Aku sendiri gak bisa ngambil gambar. Aku tau shot yang aku mau tapi aku gak ngerti teknis. Jadi aku butuh DOP (director of photography).

 

"Aku lebih ke big ideanya. Dan semua teknis aku bisa belajar dari internet. Aku berawal dari editing. Internet helps me a lot."

Apakah ada kendala dalam mengerjakan behind the scene film?

 

Kendala sih gak ada, soalnya itu belajar, dan gak ada demand gede, yang penting terekam semuanya. Dan itu kan marketing side of view, karena keluar sebelum filmnya. Jadi kita buat bagaimana sampai orang tertarik untuk nonton filmnya. Karena aku sekolah marketing, jadi pengetahuan itu akhirnya bisa digunakan.

 

Bisa jelaskan sedikit mengenai pekerjaan kamu di @majipiktura dan @ponyourtone?

 

Pon Your Tone itu fokusnya ke event. Khususnya lebih ke movement tentang music and art. Karena aku memang suka banget sama film and music. Eventnya itu selebrasi antara artists yaitu graphic designer dan producer music. Contoh event-nya antara lain DJ performance, music performance dan instalasi.

 

Pon Your Tone sendiri sudah berdiri selama 3 tahun. Sekarang pekerjanya sudah 10 orang. Statusnya sekarang sudah stable. Next project nanti tanggal 4 November adalah anniversary Ponyourtone. Kita akan kerja sama dengan Ismaya. Jadi di Ponyourtone aku tinggal mikirin bisnisnya, orang kreatifnya sudah ada.

 

Maji Piktura ini adalah production house yang baru berdiri. Di dalamnya ada 3 orang. Aku sebagai sutradara dan 2 yang lainnya sebagai produser. Kalau karya pribadi aku lebih ke film. Iklan aku kerjakan kalau ada proyek yang aku suka aja, atau kalau visinya sejalan. Selebihnya aku memilih bekerja sebagai produser.

 

Kalau disuruh pilih antara keduanya, yang mana yang paling kamu suka kerjakan? 

 

Dua-duanya sama-sama suka. Music event dan film making, itu adalah dua hal yang mengisi hidup aku.

 

Apakah kamu memiliki ciri khas dalam karya-karya kamu? 

 

Ciri khas dalam berkarya yang nentuin itu penonton sih. Aku gak mau buat ciri khas sendiri karena itu mengkotakan aku berkarya. Tapi aku suka warna yang vibrant, beauty shot, set dan baju yang bagus, yang warnanya terkonsep. Tapi kalau ciri khas aku gak tau. Biar penonton yang define.

 

Apa proyek favorit sejauh ini?

 

Proyek favorit so far, banyak. Karena tiap proyek punya beda pengalaman. Pasti selalu baru. Aku juga selalu ambil proyek yang belum pernah dikerjain. Kayak kalau sudah pernah mengerjakan sesuatu, terus mengerjakan hal yang sama lagi itu nggak mungkin. Jadi orang kalau liat aku karyanya pasti vibrant banget. Selalu beda-beda.

 

Kalo client based, yang tokopedia aku seneng banget. Karena di video yang terakhir, Cita Cinta, mereka kasih kebebasan aku buat menulis, dan aku kolaborasi dengan band Matter Hello untuk jadi soundtrack lagunya. Mereka mengarang lagunya juga baru, berdasarkan dengan cerita yang aku buat. Jadi soundtrack dan videonya bener-benar dibuat untuk proyek ini dan hasilnya aku juga seneng banget. Talent-talentnya juga surprisingly pada bisa menyampaikan pesan-pesannya. Jadi proyek ini lumayan seru banget.

 

Kalau proyek pribadi aku yang terakhir, aku bikin film di Auckland, New Zealand. Itu film pendek aku yang kedua. Bercerita tentang orang buta yang traveling. Serunya adalah aku harus kasih perspektif keindahan lewat orang buta. Minggu lalu baru saja selesai proses syuting yang makan waktu 5 hari. Releasenya tahun depan, nanti juga akan diikutkan festival juga. Ngerjainnya mau pelan-pelan aja, karena gak ada target. Judulnya masih belum ada. Idenya datang dari produsernya yaitu Abas. Waktu dia traveling, dia ngeliat ada orang buta tapi traveling sendiri. Itu menarik untuk diangkat.

 

"Aku juga selalu ambil proyek yang belum pernah dikerjain. Kayak kalau sudah pernah mengerjakan sesuatu, terus mengerjakan hal yang sama lagi itu nggak mungkin."

 

What is your most amazing achievement?

 

Belum ada best achievement. Belum. Mimpi aku mungkin terlalu besar ya. Jadi aku gak pernah puas dengan achievement yang pernah ada. Masih kurang terus.

 

What is your dream project?

 

My wildest dream is to make a feature film yang idealis tapi komersial. Jadi filmnya bisa dibilang art house tapi semua rakyat di Indonesia bisa nonton dan bisa di tonton dunia juga. Tapi sebenarnya mimpinya itu adalah untuk ngecrack formula dimana audience bisa menerima karya yang idealis. Bukan kayak art house yang festival material banget tapi masyarakat dari A to Z gak bisa nonton. Aku juga mau, habis nonton film aku orang bisa punya film lagi di kepalanya mereka. Gak cuma berhenti ketika filmnya berakhir. Dan filmnya bisa ditonton berkali-kali, dan mempunyai rasa dan perspektif yang berbeda tiap kali ditonton.

 

Apakah proyek kamu yang selanjutnya?

 

Aku baru saja selesai syuting 2 proyek. Videoklip Andien yang judulnya Indahnya Dunia dan film pendek kedua aku. Dua-duanya ngomongin keindahan tapi dari perspektif yang berbeda-beda. The whole campaign aku setahun ini concernnya lagi mengulas keindahan. Tapi bukan keindahan kasat mata. Kalau proyek berikutnya setelah itu mungkin lebih client based aja.

 

Apakah kamu punya Role Model?

 

Ada. Dia adalah sutradara dari luar, David Lynch. Dia bukan cuma seorang director, tapi juga spiritual teacher and artist. Dia adalah seorang kreator, itu memotivasi aku. Dia gak membatasi diri cuma jadi sutradara, tapi dia juga bisa melukis, dia bisa bikin lagu dan dia bisa jadi guru spiritual. Dan aku arahnya kesitu. Film making dan event itu cuma media aku berekspresi. Mungkin saja aku besok mulai melukis, atau bisa jadi apa aja. Itu yang menginspirasi aku.

 

Yang kedua, Sofia Coppola yang adalah director juga. Aku suka karya dia karena dia selalu mengangkat feminism di karyanya dia. Dan semua soundtrack yang dia pakai di film dia basically adalah semua lagu yang aku suka. Jadi aku kayak punya kesamaan dengan dia.

 

Yang ketiga, Christopher Nolan. Aku suka gimana dia punya treatment yang berbeda dari sutradara lain dan concern utama dia itu adalah waktu. Dia selalu kasih perspektif yang beda banget masalah waktu. Selalu kasih feeling yang berbeda-beda.

 

"My wildest dream is to make a feature film yang idealis tapi komersial."

Menurut kamu kemajuan dunia film/visual maker di Indonesia sekarang seperti apa? Apakah ada komunitas untuk belajar dan berbagi ilmu? 

 

Di indonesia sudah sangat berkembang, tapi belum ada benchmark yang konkret, semua masih coba-coba. Tapi berkembang dan tastenya bagus. Tinggal perlu konsisten saja. Semua masih pada baru, masih belajar, masih anget-angetan gitu kadang. Gimana kita bisa konsisten sama karya dan tujuannya. Dengan begitu kita akan terus bisa dilirik dari yang diluar Indonesia.

 

Aku gak pernah ikut komunitas. Itu mungkin bagian introvert aku. Kalau berkarya aku asik sendiri, bukan tipe orang yang suka bertanya. Karena kalau karya kreatif terlalu banyak kepalanya malah gak dapat tujuannya.

 

Apakah kamu punya saran untuk mereka yang mau belajar jadi creative director? Apalagi yang belum tau dunia persaingan bisnis ini

 

Selalu break the boundaries. Jangan pernah takut dengan ide yang sudah muncul di kepala. Ide itu harus selalu ditangkap, tapi tetap mau dengar juga, karena ide juga berawal dari concern kita sendiri atau concern orang, terus itu bisa jadi solusi. Gak usah takut sama masalah teknis, karena masalah teknis pasti ada. Mau buat ini, harus bikin ini itu, susah! Jangan takut, karena teknis itu sudah ada divisinya sendiri. Sebagai kreator kita harus bisa mikirin the big idea dan tujuannya. Kita bikin karya ini buat apa, siapa pasarnya, dampaknya apa? Pikiran ini sangat berpengaruh dalam kreatif proses.

 

Kita juga harus coba hal-hal baru. Jangan pernah merasa monoton. Kalau memang bosan ya cabut. Jadi aku memang  gak bisa kerja 9-5. Karena menurut aku itu mengkotakan. Jadi harus ada sisi rebel dalam diri.

 

Aku gak pernah ada kompetisi dan gak pernah mikir ada kompetisi. Serunya dari kreator adalah ide aku belum tentu sama dengan yang lain. Kalo ada yang sama ya tinggal bikin lagi aja. Kalau ada yang lebih terkenal atau mungkin karyanya lebih bagus justru aku senang banget. Aku support. Karena aku mengerti proses makingnya  itu seperti apa. Semakin kamu pikir itu kompetisi, semakin kamu gak akan kelihatan mungkin. Jadi, jangan pernah mikirin itu. Menghilang aja sama karya kamu. Kerjakan sendiri, kenapa harus mikirin orang lain. Gak, it does not work that way!

 

Menurut kamu, apakah peran media sosial dalam karir kamu?

 

Bantu gak ngebantu. Karena mungkin only a few orang yang tau aku buat karya kayak apa. Tapi untuk jaman sekarang memang perlu publikasi lewat media sosial karena orang sudah gak nonton tv, semuanya lewat media sosial. Tapi justru malah aku ingin cabut dari media sosial kalau misalnya ada satu karya aku yang sudah ‘Darrr’. Coba saja liat director terkenal, memang dia punya media sosial? Di luar negeri gak ada. Memang media sosial di luar negeri tidak seperti di Indonesia. Kalau sutradara di Indonesia pakai media sosial bukan untuk personal branding dan karyanya tetap works aja. Sebenarnya director gak butuh media sosial, karena karyanya yang dirasakan bukan personal branding. Tapi karena aku masih baru dan generasi millennial sekarang liatnya dari media sosial, mau gak mau aku harus ikut game mereka. Tapi saat aku sudah dipercaya orang-orang untuk bikin karya, aku gak butuh media sosial sebenarnya. Penting gak penting sih. Tapi aku gak mau penonton melihat aku jadi subjektif. ‘Oh ini karena karyanya Ghyan’. Penonton harus tau itu film, jangan karena aku yang buat film itu.

 

Apakah konsep tempat kerja kamu?

 

Gak ada konsep sebenarnya. Ini dibuat yang nyaman aja. Di bawah ada kantor buat meeting, tapi sekarang lagi berantakan. Aku sebisa mungkin kalau berkarya atau dapat ide itu di tempat yang nyaman. Biasanya aku dapat ide waktu traveling, pulang ke rumah dan difinalize. Tapi sebenarnya ruangan ini tempat nonton bareng teman-teman, terus kita bahas filmnya. Tapi habis itu ya sudah ini dijadikan tempat buat bekerja. Ini juga masih dalam proses, jadi belum selesai. Nanti akan ada tanaman-tanaman. Balkonnya juga baru jadi, belum ada kursinya. Nanti kalau sudah ada, kalau penat kerja bisa keluar ke balkon.

 

Kalau dekorasinya ada koleksi buku karena aku memang suka baca buku. Kalau hiasan di rak ini, ada dari yang aku beli dari Vietnam, dari Sumba, dan yang lain adalah oleh-oleh. Terus ini (paket kopi filosofi kopi) adalah kenangan dari karya yang aku banggain karena ini adalah behind the scene pertama aku. Lalu ada piagam dari kampus, dan ada koleksi musik vinyl aku.

 

Apakah kamu morning person atau night person? Adakah rutinitas yang kamu jalani setiap hari?

 

Morning person. Pagi kerja, malam tidur. Menurut aku matahari itu fun banget.

 

Daily rutinnya pertama itu bangun jam 7-8, lalu bikin sarapan. I never skip breakfast! Lalu bikin kopi atau beli kopi tuku karena dekat. Setelah itu baca buku, sekarang lagi baca buku Rimbaud in Java. Selesai baca buku aku dengerin lagu. Akhirnya baru mulai bekerja sekitar jam 10.

 

"Selalu break the boundaries. Jangan pernah takut dengan ide yang sudah muncul di kepala."

Hal apa yang selalu ada di meja kerja?

 

Hal yang harus ada di meja saat kerja pastinya hard disk, notebook and laptop.

 

Apa yang biasa kamu lakukan saat break time?

 

Nonton film, nonton video keren, nonton inspiring video. Aku juga suka banget browsing lagu baru. Genre lagunya apa aja. Biasanya lewat Spotify dan Soundcloud.

 

Apakah kamu pernah mengalami artblock? Gimana cara mengatasinya?

 

Iya. Cara ngatasinnya itu keluar jalan-jalan. Justru malah harus have fun. Kalau ada waktu banyak sih pergi traveling, tapi kalau cuma sebentar ya have fun aja di Jakarta. Jalan-jalan naik mobil di tol, dengerin lagu, cari city lights malam-malam.

 

Apa motivasi dan inspirasi kamu buat kerja?

 

Motivasi yang jelas karena yang aku lakukan adalah passion aku. Apa yang ada di ide aku itu harus tereksekusi. Aku terlalu percaya dengan visi aku, jadi itu yang memotivasi aku untuk bisa mengeksekusinya.

 

Motivasi yang lain mungin lebih personal karena aku sudah biayain satu rumah tangga ini, jadi itu motivasi aku untuk making money. Mau gak mau, aku harus making money out of my job. Aku bukan kayak seniman yang hari ini kerja besok terserah. Tapi memang I work because I needed the money. Bisa dibilang aku perfeksionis tapi juga realistis.

 

Inspisrasi biasanya dari internet. Aku juga suka banget ngobrol sama orang. Bukan yang ngobrol dengan teman, tapi orang siapa aja, kayak tukang bakso. Karena mereka perspektifnya suka macem-macam. Selain itu, aku juga suka baca buku, nonton dan datang ke tempat baru.

 

Kamu kan hobi jalan-jalan, kalau boleh pilih mau jalan-jalan kemana? Sama siapa?

 

Aku mau ke Itali, Meksiko, dan Spanyol. Intinya aku suka kota yang vibrant, yang masih kaya dengan budaya. Aku suka ke tempat yang orangnya dan bangunannya rich, not in material but in culture. Sama siapa, sama partner aku pastinya.

 

September nanti akan ke Barcelona sendiri sih. Karena aku ingin learn something new.

 

Apakah turning point yang membuat kamu mau fokus ke film making?

Pertama kali bikin film pendek. Karena film mengkpresikan semua medium yang mau aku sampein. Aku suka banget music. Music and sound itu adalah bagian yang sangat penting di film. Aku juga suka sesuatu yang visually good, suka capture things, framing di kamera, suka sama set, architech, interior design, dan fashion juga, karena aku grow up in fashion. Nah film itu bisa menggabungkan semua yang aku suka.

Apa warna favorit kamu?

 

Biru. Karena biru itu kalem, but deadly. Kayak ocean. Deep juga, aku suka things yang deep.

 

Where do you see yourself in 5 years?

                                                                

Someone that is useful to people. Yang penting, tujuan aku, yang jelas ingin menginspirasi orang-orang lewat karya aku. Aku ingin dari liat karya aku orang jadi bisa mikir ‘Aku bisa bikin ini nih’, jadi tergerak hatinya. Dan bisa menghibur banyak orang juga. Untuk jadi apa, aku masih belum tau, karena tujuan aku, I know that Im a massanger. Memang hidup aku itu untuk kasih pesan-pesan. Maunya sih terus seperti itu.

 

Apapun medianya, mau terus jadi director atau mungkin tiba-tiba jadi painter, aku gak mau mengkotakan diri aku asal tujuan aku sama.

 

Area apa dalam kamu berkarya yang menurut kamu masih bisa diimprove?  

 

Script writing. Aku punya script writer, karena aku memang gak bisa nulis, dan memang sebenarnya gak perlu bisa nulis. Tapi untuk mematangkan sebuah visi, aku ingin bisa menulis.

 

Aku juga ingin belajar lagi tentang mood, art, dan lain-lain. Ingin eksplorasi disitu, look sama story.

 

Apakah kamu punya mentor?

 

Mentor aku itu Angga. Semua karya aku pasti dia kasih masukan. Sama Ipang juga (script writer di Julian Day).

 

Apa motto kamu dalam berkarya?

 

Do it with heart. Karena kalau kita sudah mengerjakan sesuatu dengan hati, yang datang berkolaborasi visinya akan sama dan kita akan punya energi yang sangat positif. Kan untuk untuk buat film itu gak sendiri. Banyak banget orangnya. Jadi penting banget untuk bisa punya energi itu. Sesuatu yang gak kasat mata tapi orang-orang bisa ngerasain.

 

Karena akan kerasa, bahkan penonton juga akan bisa merasakan karya yang dibuat pake hati. Karena sekomersial apapun sebuah karya, harus ada sisi kita disana. Hatinya harus ada disitu. Kalo gak, kita akan sama dengan orang lain juga, yang menyerah dengan misinya.

 

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Interview

OU in Love

Abenk Alter: Mengejar Mimpi Melalui Panggilan Hati

Lebih dahulu dikenal sebagai salah satu vokalis dari band ternama tanah air Soulvibe, Abenk Alter yang memiliki nama asli Rizqi Ranadireksa mulai beralih karier sebagai seorang seniman dalam satu tahun belakangan ini. Berbekal hobi serta kegemarannya melukis sedari dini, Abenk membulatkan tekad untuk keluar dari band yang telah membesarkan namanya dan serius menekuni ilmu dalam…
OU in Love

Gianni Fajri – Up and Rising Indonesian Female Director

Sukses mengeluarkan satu film pendek dan tengah mengerjakan film pendeknya yang kedua, Gianni is on her way to become Indonesia‘s next generation of film maker.   Observant, calm and vibrant, itu adalah 3 kata yang dipilih Ghyan, sapaan akrab Gianni, untuk mendeskripsikan dirinya. Mengaku bukan introvert maupun extrovert, karena kadang bisa berbaur dengan banyak orang…
OU in Love

Novia Achmadi – Graphic Designer, Hand-Lettering Artist & founder of Kallos

Ditemui di kediamannya suatu Sabtu siang, Novia yang menggunakan busana hitam-hitam menyambut saya dengan ramah di depan pagar. Setelah masuk ke dalam ruang tamu, saya langsung disambut oleh dua ekor kucing. Setelah berbincang-bincang, saya mengetahui bahwa wanita penyuka warna pink blush ini ternyata adalah seorang pecinta binatang. Dia sempat ingin memelihara ular dan anjing, tapi…
OU in Love

Veronica Halim: Kisah Indah Sang Penulis Indah

Kisah sang graphic designer juga caligraphist Hobi yang mulai ditekuni karena bosan, berubah menjadi buku yang diterbitkan di Jepang dalam kurun waktu kurang dari 4 tahun.“Nothing is planned ,everything started from one thing led to another”, begitulah ungkap Veronica tentang karirnya di dunia kaligrafi. Tak disangka, hobi yang mulai ditekuninya karena bosan bekerja ini, kini telah melahirkan…