Wadahnya Street Art Indonesia

Salah satu project besar yang lahir dari sebuah organisasi non profit bernama Forum Lenteng ini berisi tentang beragam ”Seni” yang ada di jalanan. Visual Jalanan dibentuk oleh sekumpulan para penggiat seni (mahasiswa ilmu komunikasi/jurnalistik, pekerja seni, periset dan pengamat kebudayaan) di Jakarta, yang bergerak langsung dalam pendataan dan media online, berfokus dalam perkembangan street art baik di dalam negeri maupun mancanegara, dari umum ataupun seniman.

 

Project yang lahir pada bulan Maret 2012 ini mengembangkan sebuah jurnal online berbasis website yang dapat dilihat dalam www.visualjalanan.org, dan terus berjalan hingga saat ini. Tidak hanya menampung berbagai macam jurnal, pada tahun 2013 project ini melebarkan sayapnya ke media sosial seperti Instagram, agar mudah berbagi informasi kepada khalayak luas melalui media foto tentang seni jalanan. Semuanya boleh mengirimkan hasil karya – karyanya ke akun Instagram tersebut dan nantinya akan di feature langsung oleh admin @visual.jalanan.

 

Project ini semakin berkembang dengan lahirnya sebuah toko online bernama Toko Store (@toko.store) yang menjual segala merchandaise dari Visual Jalanan di tahun 2014. Tidak berhenti di situ saja, project besar ini kian menggurita dengan mengadakan sebuah pameran besar di Galeri Nasional Indonesia. Pameran yang berjudul Bebas Tapi Sopan ini adalah karya yang termuat dalam Jakarta Biennale 2015 : Maju Kena, Mundur Kena, yang diselenggarakan selama 7 hari dengan pengunjung kurang lebih 17 ribu orang.

 

Mas Andang Kelana selaku kurator, pemred, dan manajer dari Visual Jalanan ini mengatakan bahwa siapa saja dapat berkontribusi untuk mengisi rubik – rubik  di dalam website, salah satunya rubik Visual Insite.

 

Alasan diadakannya pameran ini karena tim Visual Jalanan ingin memperlihatkan seni – seni yang ditemukan di setiap ”kanvas” jalanan yang sering kita temukan. Karena menurut mereka, jalanan adalah kanvas dan setiap orang bisa menjadi seniman di dalamnya. Pameran mereka dipamerkan dalam pameran ‘Bebas Tapi Sopan’ yang dikuratori oleh Abi Rama dan Andang Kelana—sebagai bagian dari ‘Jakarta Biennale 2015: Maju Kena, Mundur Kena’. Pameran ini turut mengundang belasan seniman, baik individu maupun kelompok, yang terinspirasi oleh objek-objek yang ditemukan di jalanan.

 

 

Semakin berkembangnya project besar ini di latarbelakangi oleh anggota yang giat membantu memajukan project tersebut. Untuk perekrutan anggota Visual Jalanan, mereka merujuk pada Forum Lenteng. Namun untuk perekrutan tim redaksi atau kontributor mereka merekrutnya sendiri jika mereka membutuhkan.

 

Tidak di pungkiri, hampir 6 tahun berdiri, terdapat banyak kendala yang dihadapi seperti kurangnya penulis atau contributor untuk jurnal online karena project ini bersifat non-profit. Selain itu, ada beberapa anggota yang akhirnya harus bekerja ekstra, menjadi multitasking seperti mas Andang sendiri contohnya. Ia bertugas sebagai kurator, pemred, manajer, hingga pernah juga menjaga buku di pameran. Visual Jalanan pure di biayai oleh dana bersama dari forum Lenteng.

 

Di akhir wawancaranya, mas Andang berharap bahwa kedepannya Visual Jalanan dapat berjalan seperti biasa serta dapat melaksanakan agenda untuk dua tahun kedepan yaitu memulai proses riset Seni Jalanan Indonesia dan menerbitkan bukunya dibarengi dengan pameran.

 

Wow! Cool!

 

4 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in OU Cool

OU Cool

OU COOL: CREACVITY WITH LENS BY FAISAL Y. DJAJA

Apa yang kamu bayangkan ketika melihat feed Instagram dari @faisaldjaja ini? Simple, klasik, dan sangat VSCO sekali, begitu kurang lebih yang OU COOL rasakan. Sebelum membahas lebih jauh mengenai fotografi ala Faisal kali ini, kamu semua pasti sudah tidak asing bukan dengan VSCO? OU COOL yakin, generasi millenials saat ini pasti sudah diluar kepala mengenai…
OU Cool

EKSISTENSI TOKO MUSIK ‘KEEP-KEEP’

Toko musik masih menjadi rumah bagi para penikmatnya. Di antara banyaknya platform musik digital yang tumbuh subur sekarang ini, ternyata masih banyak toko musik yang dapat kita jumpai di beberapa kota, seperti ‘’Keep-keep’’ di Bandung dan ‘’Podomoro’’ di Yogyakarta . Toko-toko tersebut tidak banyak berubah, masih sebagai gudang inspirasi bagi para pelanggannya. Tidak lupa juga sebagai ajang temu kangen…
OU Cool

OU COOL: THE MAN BEHIND #MADEWITHSTORIES

Siapa yang tidak tahu Instagram? Platform yang hampir digunakan semua umat ini banyak sekali membawa perubahan. Tidak jarang juga yang akhirnya menemukan ‘’dirinya’’ pada platform tersebut. Sebut saja para influencer juga para pebisnis-pebisnis maya yang sering kita temui.     Bagi kamu yang sering main Instagram, rasanya ada nilai plus tersendiri jika konten yang kita…
OU Cool

OU COOL: CHOO-CHOO, SOBAT BAIK DARI KERETA COMMUTER LINE

Choo-Choo, buku ilustrasi bergambar yang berisi cerita seekor anjing dan rubah ini ikut meramaikan dunia buku ilustrasi Indonesia. Sama seperti Naela Ali, Lala Bohang, dan Marchella FP, kini Citra Marina ikut mendobrak semangat membaca masyarakat Indonesia lewat karya-karya mereka yang serupa tersebut. Choo-Choo, bikinan Citra ini bisa dibilang sebuah refleksi diri seorang Citra selama ia…