Sastra Lintas Rupa: Memperlihatkan Sastra Lewat Desain Grafis

 

Jika kita lihat sekilas, karya-karya yang dihasilkan Sastra Lintas Rupa memiliki design yang menarik dan “playful” dengan pemilihan elemen desain dan tipografi yang mereka gunakan. Namun jika dilihat lebih jelas, gambar-gambar tersebut merupakan pecahan dari puisi-puisi Chairil Anwar ataupun karya sastra lainnya yang disajikan ulang menggunakan visual yang didapat dari arsip PDS H.B Jassin.

Sastra Lintas Rupa di inisiasikan oleh Garyanes Yulius pada tahun 2017. Gary adalah seorang mahasiswa Design Komunikasi Visual lulusan dari Institut Kesenian Jakarta (IKJ), dimana project ini berawal dari tugas akhir kuliah Gary yang berkembang dan menjadi platform individual. Hal yang membuat Gary tertarik untuk menggabungkan karya sastra dengan desain grafis adalah kesamaan yang ia temukan dari kedua hal tersebut yaitu kesamaan keduanya yang berbicara tentang bahasa.

 

H.B Jassin

Semua eksplorasi visual yang dibuat dan di jadikan buku berasal dari PDS H.B Jassin. Pusat Dokumentasi Sastra H.B Jassin yang terletak di Cikini adalah pusat dokumentasi sastra terlengkap yang memiliki kurang lebih 50.000 dokumen.

Sayangnya tempat arsip PDS H.B Jassin kurang terorganisir karena mereka bergerak secara independen. Namun tempat ini menjadi pilihan yang tepat untuk memilih dan mencari visual untuk project Gary karena PDS H.B Jassin sangat kaya akan aset visual dan pengunjung dibebaskan untuk memfoto, fotokopi dokumen-dokumen yang ada. Proses eksplorasi visual arsip sebagai bagian dari pemecahan masalah dari PDS H.B Jassin juga menjadi praktik social design yg diadaptasi dari metode design thinking TIM Brown President dari IDEO.ORG

 

Eksplorasi Visual Chairil Anwar (Angkatan ’45)

Eksplorasi Visual Chairil Anwar (Angkatan ’45) adalah project pertama Gary yang ia buat untuk tugas akhir kuliahnya di IKJ. Apa dan mengapa Chairil Anwar (Angkatan ’45), ia pilih untuk menamakan project ini, mengikuti timeline sastra di Indonesia yang bermula di tahun 1945, lalu ia memilih sastrawan yang cocok untuk mewakili tahun tersebut, dan terpilihlah Chairil Anwar sebagai representatif sastra dari tahun 1945.

Dalam project ini Gary sebagai fasilitator, melibatkan 5 orang untuk menjadi representator dalam memilih kata-kata dari puisi-puisi Chairil Anwar yang nantinya akan di terjemahkan kedalam bentuk visual. Masing-masing peserta diberikan form yang berisi puisi Chairil Anwar dan setiap peserta harus menginterpretasikan puisi tersebut kedalam 3 kata. Setiap kata yang didapat harus di representasikan kedalam bentuk visual yang sudah dibatasi oleh arsip yang telah melalui tahap seleksi dan semua gambar tersebut di dapat dari PDS H.B Jassin. Setiap kata diwakili oleh dua visual yang berbeda, lalu sang fasilitator akan menggabungkan arsip terpilih kedalam bentuk visual.

 

Untuk saat ini, buku Eksplorasi Visual Chairil Anwar (Angkatan ’45) sedang dalam proses cetak dengan DGI (Desain Grafis Indonesia) dan akan segera dipublikasikan. Tak berhenti disini saja, setelah buku Eksplorasi Visual Chairil Anwar (Angkatan ’45) terbit, Gary dan Sastra Lintas Rupa akan membuat buku eksplorasi visual dari sastrawan angkatan lainnya.

 

FRASA Zine

Selain buku visual interpretasi sastra, ternyata Sastra Lintas Rupa juga membuat zine yang dinamai FRASA yang sudah berjalan selama satu tahun. FRASA Zine juga merupakan eksperimen eksplorasi visual dari arsip PDS H.B Jassin, mereka merespons sastra dalam medium makanan. Semua visual yang dihasilkan di bentuk menjadi zine yang bertemakan kuliner.

 

Menarik bukan? Jarang-jarang ada zine yang membahas makanan tapi ngomongin sastra juga. Namun ada alasannya mengapa FRASA adalah zine bertema kuliner. Bagi sang inisiator (Gary), sastra dikalangan anak muda kurang diminati dan terlalu berat, sehingga tidak banyak peminatnya. Pada kenyataannya sastra tidak harus selalu berat, bisa di buat lebih enteng dan menarik. Lalu alasan kedua adalah resep masakan yang dulu dimiliki kebanyakan ibu-ibu perlahan memudar karena perkembangan zaman dan adanya internet, maka timbullah ide untuk membuat buku sastra dengan konsep buku resep makanan. Kedua hal tersebut bisa saling berhubungan karena makanan adalah kebutuhan dasar manusia dan tanpa kita sadari hal tersebut juga bisa berhubungan dengan hal-hal yang terjadi di kehidupan.

 

Untuk saat ini FRASA baru memiliki satu edisi dan sudah SOLD OUT. Kedepannya FRASA akan mengeluarkan edisi edisi lain yang terus membahas seputar makanan.

Ditunggu karya-karya selanjutnya yaa Sastra Lintas Rupa. Semoga tugas akhir kuliah yang berlanjut ini memiliki dampak yang positif bagi anak-anak muda untuk bisa kembali jatuh cinta dengan dunia sastra, meski dalam bentuk yang berbeda.

0 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in OU Cool

OU Cool

Ada Cerita Di Balik Kolase Ika

  Ketika sepuluh jari tangan bermain – main dengan gunting, kumpulan gambar, lem, serta sentuhan seni maka jadilah sebuah kolase. Adalah Ika Vantiani, perempuan dibalik semua karya kolase apiknya yang lahir dari ide – ide dan ceritanya sendiri, lalu ia wujudkan menjadi sebuah susunan gambar yang mempunyai cerita.   Usut punya usut, Ika yang dulunya…
OU Cool

Berkenalan dengan Toko Lempung : Clay Craft Sisters

  “Wah……. kalungnya lucu banget. Uh…….. cocok banget sama baju aku!!!”   “Pot sama kaktusnya gemes banget, Beb, ya ampun…. galau pengen semua.”   “Gimana sih, ini cara buatnya?”   “Eeeh, Beb, lihat antingnya lucu banget yang disana. Aaaaa semuanya lucu. Sebal!”  
OU Cool

Kehadiran 2 Galeri Indonesia Di Art Basel Hong Kong 2018

Art Basel Hong Kong merupaka pameran seni bergengsi yang ditunggu-tunggu para pecinta seni dan pekerja seni setiap tahunnya. Art Basel Hong Kong berlangsung pada tanggal 27 hingga 31 Maret 2018. Tahun ini Art Basel Hong Kong tidak kalah menarik dengan tahun-tahun sebelumnya, malahan beberapa orang bilang tahun ini kurasi galeri yang terpilih untuk memamerkan karya…
OU Cool

Alberto Piliang: Illustrating the weird things in life on his own way

  Terkadang ilustrasi yang terlihat ‘dark’ atau ‘suram’ tidak selalu harus memiliki latar belakang yang sama dengan wujudnya. Seperti karya-karya ilustrasi Alberto Piliang yang memiliki nuansa ‘suram’ dan terlihat misterius tetapi sebenarnya terinspirasi hal-hal random yang menarik perhatian Alberto.