Rupa-Rupa Manusia Kata Alidestroy a.k.a Ali Hamzah JN

Belum lama ini, artist yang juga art director, Ali Hamzah atau dikenal dengan Alidestroy beberapa waktu yang lalu, menyelenggarakan pameran solonya di @paviliun_28 Jakarta Selatan.

 

Ali, yang bekerjasama dengan 100% Manusia Film Festival ini mengusung tema hak asasi manusia juga keberagaman.

 

Seperti yang kita tahu, isu-isu perempuan, gender, disabilitas, kesehatan, mental juga HIV-AIDS adalah sebagian dari keseharian yang ada di sekitar. Ali merasa tertantang untuk bekerjasama dengan 100% Manusia Film Festival dan menerjemahkan isu-isu tersebut.

Bisa dibilang, pameran ini sebuah pencapaian besar baginya, terlebih ini adalah pameran solo pertamanya. Dalam pameran ini, Ia mengungkapkan bahwa dirinya dapat mencoba lebih jujur untuk menyampaikan perasaan yang berkecamuk. Seperti depresi, kehilangan anggota keluarga, dan kecemasan-kecemasan lain.

 

Menurutnya, Rupa adalah bentuk wajah dan Manungsa itu singkatan dari manunggaling rasa yang punya arti kurang lebih berbagai rasa yang berkecamuk dan berkumpul menjadi satu. Ide-ide itu tertuang dalam delapan karya yang ia pamerkan.

 

Kepada Ou, seniman ini mengaku bahwa ia senang bereksperimen dan mencoba material baru. Ia yang biasanya senang menggunakan berbagai media seperti graphite, pen, chinese ink, watercolor dan keramik ini ternyata sedang mencoba material baru seperti cat akrilik, cat minyak, oil pastel, dan berbagai media lainnya.

Sebagai seniman, Ali mempunyai ciri khas tersendiri pada setiap karyanya yaitu garis-garis tremor yang malah memberikan nilai lebih. Apalagi, setiap goresan-goresan tangannya tersebut punya peran tersendiri untuk menyampaikan berbagai macam rasa yang ia alami.

 

Pameran tunggal yang ia selenggarakan tempo hari, kabarnya menjadi penampilan publiknya yang terakhir dalam beberapa waktu ke depan. Ia masih belum punya rencana untuk menampilkan karya baru lagi. Dirinya sedang melakuka eksplorasi lebih dalam dengan berbagi hal-hal baru seperti bereksperimen membuat karya mix media baru.

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in OU Cool

OU Cool

OU COOL: CREACVITY WITH LENS BY FAISAL Y. DJAJA

Apa yang kamu bayangkan ketika melihat feed Instagram dari @faisaldjaja ini? Simple, klasik, dan sangat VSCO sekali, begitu kurang lebih yang OU COOL rasakan. Sebelum membahas lebih jauh mengenai fotografi ala Faisal kali ini, kamu semua pasti sudah tidak asing bukan dengan VSCO? OU COOL yakin, generasi millenials saat ini pasti sudah diluar kepala mengenai…
OU Cool

EKSISTENSI TOKO MUSIK ‘KEEP-KEEP’

Toko musik masih menjadi rumah bagi para penikmatnya. Di antara banyaknya platform musik digital yang tumbuh subur sekarang ini, ternyata masih banyak toko musik yang dapat kita jumpai di beberapa kota, seperti ‘’Keep-keep’’ di Bandung dan ‘’Podomoro’’ di Yogyakarta . Toko-toko tersebut tidak banyak berubah, masih sebagai gudang inspirasi bagi para pelanggannya. Tidak lupa juga sebagai ajang temu kangen…
OU Cool

OU COOL: THE MAN BEHIND #MADEWITHSTORIES

Siapa yang tidak tahu Instagram? Platform yang hampir digunakan semua umat ini banyak sekali membawa perubahan. Tidak jarang juga yang akhirnya menemukan ‘’dirinya’’ pada platform tersebut. Sebut saja para influencer juga para pebisnis-pebisnis maya yang sering kita temui.     Bagi kamu yang sering main Instagram, rasanya ada nilai plus tersendiri jika konten yang kita…
OU Cool

OU COOL: CHOO-CHOO, SOBAT BAIK DARI KERETA COMMUTER LINE

Choo-Choo, buku ilustrasi bergambar yang berisi cerita seekor anjing dan rubah ini ikut meramaikan dunia buku ilustrasi Indonesia. Sama seperti Naela Ali, Lala Bohang, dan Marchella FP, kini Citra Marina ikut mendobrak semangat membaca masyarakat Indonesia lewat karya-karya mereka yang serupa tersebut. Choo-Choo, bikinan Citra ini bisa dibilang sebuah refleksi diri seorang Citra selama ia…