PAMERAN OLEH PENGUNGSI: ‘’BERDIAM ATAU BERTANDING’’

Waktu OU Cool main ke Galeri Nasional beberapa waktu yang lalu, tampak banyak sekali turis asing yang datang silih berganti di salah satu ruang pamer di kompleks itu. Karena penasaran, kami akhirnya membawa OU Cool ke sisi yang ramai itu.

 

Sebuah judul besar menyambut kami di pintu utama pameran tersebut, ‘’Berdiam atau Bertanding’’. Dari penjelasan yang kami dapatkan, pameran ini ternyata adalah sebuah pajang karya dari kolaborasi antara seniman Indonesia dan Afghanistan, serta anak-anak pengungsi yang sedang berdomisili di Jakarta. Menurut panitia pameran ini, proses memajang karya tersebut berfungsi sebagai pintu penghubung masyarakat Jakarta dengan anak-anak pengungsi yang karena berbagai macam hal, ada di kota ini.

Jauh dari kampung halaman, membuat mereka menjadi kaum minoritas di beberapa negara yang menampung, termasuk Indonesia. Pergerakan dan akses mereka jadi terbatas. Mereka tidak bisa mendapatkan hak yang sama seperti anak-anak lainnya karena mereka bukanlah warga asli dari negara tersebut. Padahal, mereka semua punya mimpi yang sama seperti anak-anak lainnya.

 

Di Jakarta sendiri, anak-anak pengungsi tersebut ditampung dalam sebuah yayasan yang bernama Roshan Learning Center. Mereka dapat belajar lebih mengenai seni juga fotogtarafi pada kelas tersebut. Tidak heran jika pada pameran ini, banyak sekali karya-karya dari anak-anak tersebut yang sangat apik, seperti prakarya daur ulang, melukis hingga fotografi.

Lewat karya seni itulah mereka akhirnya dapat menyampaikan suara mereka. Bagaimana perasaan mereka, serta seperti apa mimpi mereka saat ini. Lewat karya seni pula, mereka akhirnya bisa belajar banyak tentang banyak hal dari komunitas-komunitas lokal yang ada.

 

Pada pembukaan pameran ‘’Berdiam atau Bertanding’’ itu pula, terdapat replika pembuatan kartu tanda penduduk yang ternyata disambut antusiasme tinggi oleh para anak-anak pengungsi tersebut.

Harus diakui, pameran ini, mereka membuka mata kita tentang kehidupan pengungsi yang ternyata tidak jauh dari keseharian penduduk lokal. 72 karya yang berkolaborasi dengan 27 seniman tersebut adalah bukti bahwa mereka punya kompetensi yang harus dikembangkan untuk masa depan mereka. Jadi gimana? Tertarik untuk sharing ilmu bersama mereka?

0 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in OU Cool

OU Cool

OU COOL: CREACVITY WITH LENS BY FAISAL Y. DJAJA

Apa yang kamu bayangkan ketika melihat feed Instagram dari @faisaldjaja ini? Simple, klasik, dan sangat VSCO sekali, begitu kurang lebih yang OU COOL rasakan. Sebelum membahas lebih jauh mengenai fotografi ala Faisal kali ini, kamu semua pasti sudah tidak asing bukan dengan VSCO? OU COOL yakin, generasi millenials saat ini pasti sudah diluar kepala mengenai…
OU Cool

EKSISTENSI TOKO MUSIK ‘KEEP-KEEP’

Toko musik masih menjadi rumah bagi para penikmatnya. Di antara banyaknya platform musik digital yang tumbuh subur sekarang ini, ternyata masih banyak toko musik yang dapat kita jumpai di beberapa kota, seperti ‘’Keep-keep’’ di Bandung dan ‘’Podomoro’’ di Yogyakarta . Toko-toko tersebut tidak banyak berubah, masih sebagai gudang inspirasi bagi para pelanggannya. Tidak lupa juga sebagai ajang temu kangen…
OU Cool

OU COOL: THE MAN BEHIND #MADEWITHSTORIES

Siapa yang tidak tahu Instagram? Platform yang hampir digunakan semua umat ini banyak sekali membawa perubahan. Tidak jarang juga yang akhirnya menemukan ‘’dirinya’’ pada platform tersebut. Sebut saja para influencer juga para pebisnis-pebisnis maya yang sering kita temui.     Bagi kamu yang sering main Instagram, rasanya ada nilai plus tersendiri jika konten yang kita…
OU Cool

OU COOL: CHOO-CHOO, SOBAT BAIK DARI KERETA COMMUTER LINE

Choo-Choo, buku ilustrasi bergambar yang berisi cerita seekor anjing dan rubah ini ikut meramaikan dunia buku ilustrasi Indonesia. Sama seperti Naela Ali, Lala Bohang, dan Marchella FP, kini Citra Marina ikut mendobrak semangat membaca masyarakat Indonesia lewat karya-karya mereka yang serupa tersebut. Choo-Choo, bikinan Citra ini bisa dibilang sebuah refleksi diri seorang Citra selama ia…