METAMORFOSIS GAME DI ERA DIGITAL

Mari flashback ke tahun 90-an dulu. Pernah tahu rasanya main Mario Bros dan Pac-Man? Atau permainan tim seperti petak umpet, lompat tali, juga monopoli? Rasanya seru; bermain di luar rumah dengan teman-teman sekolah, lalu ada hukuman bagi yang kalah. Berangkat dari rumah masih bersih, pulang-pulang muka penuh dengan bedak bayi karena kalah.

 

Kebayang nggak kalo sekarang kita bisa lho main seperti itu lagi, sendiri? Di era digital media seperti sekarang ini, bukannya tidak mungkin kita bermain petak umpet dimana pun, kapan pun kita berada. Perkembangan media digital yang juga mempengaruhi dunia game ini membuat teknologi virtual reality dapat membangkitkan kenangan kita terhadap permainan jaman dulu lagi. Yang tidak ada, bisa dibuat ada.

Sama seperti pameran Instrumenta 2018: Sandbox, yang digelar di Galeri Nasional. Dalam pameran tersebut, kita disuguhkan dengan banyak instalasi media game menarik seperti virtual reality, game digital, arcade game, internet, kecerdasan buatan (artificial intelligence), apps, foto, video, pemrograman komputer, robot, cahaya, sensor elektronik, perangkat kinetik, bebunyian, hingga permainan tradisional.


Pengunjung tidak hanya dibuat kagum oleh berbagai ide kreatif dari instalasi media yang disuguhkan, namun juga dapat mencoba langsung beberapa permainan yang disediakan. Pameran ini sangat mengasah skill bermain para tamunya, tidak heran jika banyak sekali anak-anak yang datang berkunjung untuk mencoba semua permainan yang disediakan.

Ada salah satu dari karya instalasi yang menarik menurut OU Cool, yaitu karya dari Ryota Kuwakubo, The Tenth Sentiment. Instalasi kinetik dari Ryota ini memadukan benda-benda yang ada, dan disusun sedemikian rupa sehingga bayangan yang dihasilkan seakan-akan adalah bayangan kota yang setiap hari kita rasakan. Karya tersebut seakan mewakili kehidupan sehari-hari, dimulai dari orang-orang yang mulai berkegiatan hingga senja datang.

 

Terdapat 34 seniman yang mengikuti pameran ini. Layar belakangnya beranekaragam, seperti seniman visual, musisi, fotografer, dan peneliti dari Indonesia maupun mancanegara. Pengunjung dibebaskan bermain begitu saja persis seperti makna dari pameran ini, Sandbox: aktivitas bermain bebas dan terbuka. Ini salah satu efek bagus perkembangan teknologi, bahwa kita selalu bisa kembali ke masa lalu dan menengok hal-hal bagus di sana. (*)

 

0 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in OU Cool

OU Cool

OU COOL: CREACVITY WITH LENS BY FAISAL Y. DJAJA

Apa yang kamu bayangkan ketika melihat feed Instagram dari @faisaldjaja ini? Simple, klasik, dan sangat VSCO sekali, begitu kurang lebih yang OU COOL rasakan. Sebelum membahas lebih jauh mengenai fotografi ala Faisal kali ini, kamu semua pasti sudah tidak asing bukan dengan VSCO? OU COOL yakin, generasi millenials saat ini pasti sudah diluar kepala mengenai…
OU Cool

EKSISTENSI TOKO MUSIK ‘KEEP-KEEP’

Toko musik masih menjadi rumah bagi para penikmatnya. Di antara banyaknya platform musik digital yang tumbuh subur sekarang ini, ternyata masih banyak toko musik yang dapat kita jumpai di beberapa kota, seperti ‘’Keep-keep’’ di Bandung dan ‘’Podomoro’’ di Yogyakarta . Toko-toko tersebut tidak banyak berubah, masih sebagai gudang inspirasi bagi para pelanggannya. Tidak lupa juga sebagai ajang temu kangen…
OU Cool

OU COOL: THE MAN BEHIND #MADEWITHSTORIES

Siapa yang tidak tahu Instagram? Platform yang hampir digunakan semua umat ini banyak sekali membawa perubahan. Tidak jarang juga yang akhirnya menemukan ‘’dirinya’’ pada platform tersebut. Sebut saja para influencer juga para pebisnis-pebisnis maya yang sering kita temui.     Bagi kamu yang sering main Instagram, rasanya ada nilai plus tersendiri jika konten yang kita…
OU Cool

OU COOL: CHOO-CHOO, SOBAT BAIK DARI KERETA COMMUTER LINE

Choo-Choo, buku ilustrasi bergambar yang berisi cerita seekor anjing dan rubah ini ikut meramaikan dunia buku ilustrasi Indonesia. Sama seperti Naela Ali, Lala Bohang, dan Marchella FP, kini Citra Marina ikut mendobrak semangat membaca masyarakat Indonesia lewat karya-karya mereka yang serupa tersebut. Choo-Choo, bikinan Citra ini bisa dibilang sebuah refleksi diri seorang Citra selama ia…