Menyimak Travelogue Motulz dalam Sketsa

Kalau pernah mengintip akun Instagram @motulz pasti sudah tidak asing lagi dengan sketch yang memenuhi feed-nya. Mulai dari supir taksi yang tengah mengemudi, bapak-bapak yang sedang bercengkrama, tempat hangout, bangunan-bangunan cantik, suasana di depan pertokoan, sampai pemukiman padat.

 

Pekerjaannya sebagai Digital Creative Consultant membuatnya sering jalan-jalan. Ini pun dijadikan kesempatan untuk membuat travelogue atau catatan perjalanan ke dalam bentuk sketsa.

 

“Cuma ingin seperti catatan orang jaman dulu gitu, macam Colombus yang ditulis dan digambar bukunya” tutur Motulz. Sampai-sampai, Kang Motulz belajar menulis miring untuk menambah kesan catatan perjalanan ala Colombus loh!

 

 

Impian lelaki yang biasa disapa kang Motulz ini sih, berkeliling ke berbagai negara yang menarik lalu membukukan cerita perjalanannya persis seperti Christopher Colombus, Vasco da Gama, Charles Darwin, atau Wallace.

 

 

 

Meski pun kebanyakan sketsa yang ada di Instagram adalah gambar sudut-sudut perkotaan, dan aktivitas manusianya, yang jadi project favorit adalah ketika ia mengunjungi Wamena Papua. Biar sebentar, tapi ia merasa proses pencatatan dan penggambarannya pas, dalam artian harus menggambar selain bangunan. Nah, saat di Papua, ia memiliki kesempatan untuk menggambar rumah penduduk wamena dan hewan khas Wamena yaitu Babi.

 

 

Buat kamu yang berencana untuk memulai membuat ilustrasi atau doodling, ada saran nih dari Kang Motulz.

 

Menurutnya, ilustrasi atau doodling sebetulnya mirip seperti tanda tangan atau coret-coret iseng saat meeting atau menerima telepon. Rasanya hampir semua orang bisa. Namun yang harus diingat, menggambarlah sesuai hati dan nyamannya kita, jangan berpikir menggambar untuk selera atau keputusan orang lain (kecuali bila sudah menjadikan menggambar itu sebagai profesi kerja).

 

 

Ia juga menambahkan, tidak ada yang salah dan benar dalam menggambar, yang ada hanyalah indah dan tidak indah, bagus dan tidak bagus, dan semua itu dirasakan nyamannya saja. Kalau ada orang lain yang tidak suka ya biarkan saja. Karena biasanya kita enggan atau merasa susah menggambar itu karena sudah kebayang harus memenuhi ekspektasi orang lain yang akan melihat gambar kita, padahal nggak harus kan?

 

 

Kepoin karya Kang Motulz di Instagramnya @motulz atau mampir ke website-nya di motulz.com yuk!

 

2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in OU Cool

OU Cool

EKSISTENSI TOKO MUSIK ‘KEEP-KEEP’

Toko musik masih menjadi rumah bagi para penikmatnya. Di antara banyaknya platform musik digital yang tumbuh subur sekarang ini, ternyata masih banyak toko musik yang dapat kita jumpai di beberapa kota, seperti ‘’Keep-keep’’ di Bandung dan ‘’Podomoro’’ di Yogyakarta . Toko-toko tersebut tidak banyak berubah, masih sebagai gudang inspirasi bagi para pelanggannya. Tidak lupa juga sebagai ajang temu kangen…
OU Cool

OU COOL: THE MAN BEHIND #MADEWITHSTORIES

Siapa yang tidak tahu Instagram? Platform yang hampir digunakan semua umat ini banyak sekali membawa perubahan. Tidak jarang juga yang akhirnya menemukan ‘’dirinya’’ pada platform tersebut. Sebut saja para influencer juga para pebisnis-pebisnis maya yang sering kita temui.     Bagi kamu yang sering main Instagram, rasanya ada nilai plus tersendiri jika konten yang kita…
OU Cool

OU COOL: CHOO-CHOO, SOBAT BAIK DARI KERETA COMMUTER LINE

Choo-Choo, buku ilustrasi bergambar yang berisi cerita seekor anjing dan rubah ini ikut meramaikan dunia buku ilustrasi Indonesia. Sama seperti Naela Ali, Lala Bohang, dan Marchella FP, kini Citra Marina ikut mendobrak semangat membaca masyarakat Indonesia lewat karya-karya mereka yang serupa tersebut. Choo-Choo, bikinan Citra ini bisa dibilang sebuah refleksi diri seorang Citra selama ia…
OU Cool

SURVIVE GARAGE: NGGAK CUMA ARTSPACE TAPI JUGA ACTSPACE

Survive! Garage adalah sebuah artspace yang nyempil di antara rumah warga. Tempat ini patut buat disinggahi kalo ada waktu luang di Jogja. Rumah dengan mural warna-warni ini seklias nampak seperti rumah biasa. Namun, jika sudah masuk ke dalam artspace tersebut, ruangan-ruangan yang ada di dalamnya tampak seperti studio pribadi, dengan banyak karya terpajang di kanan…