Jelly Playground: Arena Bermain Pecinta Analog

Kali ini, OU berkesempatan untuk ngobrol-ngobrol dengan Renaldy Fernando Kusuma, cowok kece di balik Jelly Playground. Buat teman-teman penggemar kamera analog pasti udah nggak asing dengan Renaldy atau yang lebih sering disapa Enad.

 

Enad cerita kalau ketertarikannya dengan kamera analog mulai di tahun 2008 akhir, waktu itu lomography camera lagi hype banget, dan sudah cukup banyak kamera digital beredar. Namun, karena belum sanggup untuk membeli sendiri, akhirnya Enad mencoba kamera-kamera analog, yang waktu itu bisa ditemui di pasar-pasar loak atau toko kamera, dengan harga yg cukup murah, bisa sekitar 15 – 20 ribu saja per kamera.

 

Dari saat itu lah, ia makin sering coba-coba dan mengutak-atik kamera analog, sampe akhirnya kecemplung di dunia fotografi analog.

 

 

Kamera Analog dan Digital Sama-sama Seru

 

Kalau ditanya soal lebih seru mana antara kamera digital dan kamera analog, Enad juga mengatakan  sebenarnya masing-masing seru kok, “Nggak bisa dibandingin antara film dan digital, karena menurut saya, masing-masing punya peranannya sendiri.”

 

 

Kamera analog yang pertama kali dipakai Enad adalah Fujica MA-1 yang saat itu dibeli di pasar loak seharga 15ribu saja. Sampai kini, Enad memilih Minolta XD7 sebagai kamera favoritnya, “Meski pun bukan kamera yang saya sering pakai di awal-awal. Tapi sampai sekarang kamera ini yang paling banyak saya pakai karena kamera ini turunan dari ayah saya. Selain itu hasilnya juga memuaskan untuk saya.”

 

 

Enad juga mengaku kalau dirinya jatuh cinta dengan fotografi analog, karena hasil foto yang mempunyai karakter yang khas, di samping itu, desain dan fitur kamera analog yang unik juga jadi alasan kenapa Enad menggeluti fotografi analog ini.

 

 

“Bikin Jelly Play Ground Karena Nggak Sengaja”

 

FYI, Jelly Playground sendiri awalnya adalah blog foto Enad yang ia buat sekitar tahun 2009. Awalnya Enad hanya melayani titipan teman-teman sendiri yang minta dicarikan kamera, film, strap kamera, dan segala sesuatu yang berkaitan dengan kamera analog. Sampai pada akhirnya pesanannya pun bertambah banyak.

 

 

Nah Enad akhirnya mulai membuat kaos, dan berbagai merchandise, dan ternyata peminatnya banyak. Baru di sekitar tahun 2014 Enad pun serius menggarap Jelly Playground menjadi sebuah brand. “Jadi kalau ditanya kenapa membuat Jelly Playground, sejujurnya, gak sengaja. Hehe”

 

 

Meskipun dibuat atas dasar ketidak sengajaan, Jelly Playground juga nggak asal-asalan kalau sudah berurusan dengan fotografi analog. Selain menjual kebutuhan berfoto, Jelly Playground juga sering membuat event-event yang mendukung fotografi analog, dan yang pasti memfasilitasi pecinta fotografi analog di Indonesia.

 

 

Buat kamu yang mulai tertarik dengan fotografi analog, tapi masih ragu untuk membeli kamera serta kebutuhan pendukung lainnya, jangan sedih! Karena Jelly Playground baru saja memulai Jellyrent, yaitu fasilitas yang melayani penyewaan kamera analog. Dari “minjem” kamera ini mungkin kamu bisa nemuin serunya fotografi analog!

 

 

Masih penasaran dengan kamera analog? Kamu bisa mengunjungi Lowlight Bazaar loh! Di event tahunan yang dimulai dari tahun 2010 ini kamu bisa ketemu langsung dengan para penjual kamera film dan perlengkapannya. Kadang, bazaar ini juga dilengkapi dengan acara pendukung seperti hunting foto, workshop, pameran, dan masih banyak aktivitas seru lainnya.

 

 

Sebelum mau nyemplung ke dunia fotografi analog, follow Jelly Playground dulu di Instagram dan blognya yuk!

2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in OU Cool

OU Cool

OU COOL: CREACVITY WITH LENS BY FAISAL Y. DJAJA

Apa yang kamu bayangkan ketika melihat feed Instagram dari @faisaldjaja ini? Simple, klasik, dan sangat VSCO sekali, begitu kurang lebih yang OU COOL rasakan. Sebelum membahas lebih jauh mengenai fotografi ala Faisal kali ini, kamu semua pasti sudah tidak asing bukan dengan VSCO? OU COOL yakin, generasi millenials saat ini pasti sudah diluar kepala mengenai…
OU Cool

EKSISTENSI TOKO MUSIK ‘KEEP-KEEP’

Toko musik masih menjadi rumah bagi para penikmatnya. Di antara banyaknya platform musik digital yang tumbuh subur sekarang ini, ternyata masih banyak toko musik yang dapat kita jumpai di beberapa kota, seperti ‘’Keep-keep’’ di Bandung dan ‘’Podomoro’’ di Yogyakarta . Toko-toko tersebut tidak banyak berubah, masih sebagai gudang inspirasi bagi para pelanggannya. Tidak lupa juga sebagai ajang temu kangen…
OU Cool

OU COOL: THE MAN BEHIND #MADEWITHSTORIES

Siapa yang tidak tahu Instagram? Platform yang hampir digunakan semua umat ini banyak sekali membawa perubahan. Tidak jarang juga yang akhirnya menemukan ‘’dirinya’’ pada platform tersebut. Sebut saja para influencer juga para pebisnis-pebisnis maya yang sering kita temui.     Bagi kamu yang sering main Instagram, rasanya ada nilai plus tersendiri jika konten yang kita…
OU Cool

OU COOL: CHOO-CHOO, SOBAT BAIK DARI KERETA COMMUTER LINE

Choo-Choo, buku ilustrasi bergambar yang berisi cerita seekor anjing dan rubah ini ikut meramaikan dunia buku ilustrasi Indonesia. Sama seperti Naela Ali, Lala Bohang, dan Marchella FP, kini Citra Marina ikut mendobrak semangat membaca masyarakat Indonesia lewat karya-karya mereka yang serupa tersebut. Choo-Choo, bikinan Citra ini bisa dibilang sebuah refleksi diri seorang Citra selama ia…