Dandan Cantik Demi Asian Games ala Jakarta

Indonesia patut berbangga karena ditunjuk sebagai tuan rumah Asian Games 2018. Jakarta yang jadi salah satu tuan rumah (selain Palembang) pun bersolek diri. Selain membenahi  infrastruktur pendukung Asian Games, seperti Velodrome, Equesterian, serta lapangan-lapangan lain yang akan dijadikan arena bertanding. Jalanan protokol yang tadinya bolong-bolong pun sudah mulus sekarang.

 

Nggak cuma itu, fasilitas publik seperti LRT – yang menghubungkan Velodrome ke Kelapa Gading sudah selesai, trotoar Sudirman – Thamrin yang meski pun proses pengerjaannya agak molor, tapi lumayan lah kalau dilihat turis asing sih, nggak malu-malu amat, dan wisma atlet yang dalam tahap penataan lingkungan sekitar juga sudah mulai terlihat rampung.

 

Eh, ngomongin trotoar, jagat dunia sosial belakangan mulai diramaikan dengan foto-foto yang menjadi bukti betapa ajaibnya penataan fasilitas pejalan kaki, difabel, dan pengendara sepeda.

 

 

Guiding Block yang Menyesatkan

 

Misalnya saja garis kuning yang biasa kita lihat di trotoar, untuk kamu yang kurang familiar, jalur ini memiliki fungsi sebagai guiding block untuk pengguna trotoar tuna netra. Guiding block ini terdiri dari 2 pola, bulat dan garis. Bulat artinya berhenti, dan garis artinya mengarah ke satu arah. Sesuai namanya, tujuan guiding block ini tentu untuk membantu penyandang tuna netra agar merasa aman, tidak akan berbelok tak tentu arah atau bahkan menabrak tembok, bangku, tiang listrik, dan objek-objek lainnya.

 

 

Tapi niiih, faktanya yang bisa kita temukan di trotoar-trotoar Jakarta, guiding block ini malah bisa membahayakan kawan-kawan penyandang tuna netra. Di kawasan menteng misalnya, guiding block yang dipasang, malah menabrak halte. Atau, di kawasan Sarinah, yang ujung guiding block-nya dibuat malah mengarah ke jalan raya, bukan zebra cross.

 

 

Halang Rintang bagi Pengguna Sepeda

 

Selain kawan-kawan tuna netra, pengguna sepeda pun juga cukup dibuat pusing dengan tata letak “halang rintang” berupa tiang listrik, pot, atau pohon yang menghalangi jalur mereka. Tentunya, jalur ini membuat pengendara sepeda jadi nggak nyaman. Ingin mengurangi emisi, kok rasanya seperti main Benteng Takeshi?

 

Bukannya mau menyalahkan pemerintah, akan tetapi kesadaran untuk memberikan fasilitas yang ramah terhadap teman-teman difabel, pejalan kaki, maupun pengguna sepeda baru-baru ini saja munculnya.

 

 

Sebelumnya keadaan trotoar cukup menyedihkan, bolong sana-sini, diambil alih oleh penjaja makanan kaki lima, dijadikan tempat parkir motor, dan lain sebagainya. Jadi, saat diminta untuk memberikan fasilitas yang lebih friendly banyak banget yang harus dirombak (mungkin loh ya).

 

Memetik pelajaran dari serangkaian contoh kasus ini, coba nih, bapak ibu pemprov Jakarta yang budiman, yuk blueprint-nya dikaji kembali, kalau ingin menghias kota Jakarta yang sudah cantik ini pun, coba deh konsultasi ke mereka-mereka yang sudah lama berkecimpung di dunia kreatif.

 

Hanya mengingatkan, mendandani Jakarta demi terlihat lebih indah saat Asian Games yang sifatnya temporer itu nggak salah, tapi alangkah lebih baik lagi kalau memikirkan solusi jangka panjang untuk warga Jakarta sendiri.

 

2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in OU Cool

OU Cool

CITA-CITA ISAAC AKHIRNYA LAHIR BERSAMA EP COCOON

EP COCOON yang terdiri dari 4 single lagu ini adalah salah satu cerita bagaimana masing-masing personil Isaac dalam meraih cita-cita mereka dalam hidup. Band yang terdiri dari Marhain Williams (vocal, gitar), Nyoman Agastyasana (gitar), Akbar Prihartama (bass), dan Reinardus Suryandaru (drum) ini baru saja merilis karya mereka beberapa bulan yang lalu. Berikut penjelasan singkat mengenai…
OU Cool

PAMERAN OLEH PENGUNGSI: ‘’BERDIAM ATAU BERTANDING’’

Waktu OU Cool main ke Galeri Nasional beberapa waktu yang lalu, tampak banyak sekali turis asing yang datang silih berganti di salah satu ruang pamer di kompleks itu. Karena penasaran, kami akhirnya membawa OU Cool ke sisi yang ramai itu.   Sebuah judul besar menyambut kami di pintu utama pameran tersebut, ‘’Berdiam atau Bertanding’’. Dari…
OU Cool

ANDRA MATIN: DI BALIK KONSEP KAFE-KAFE MODERN-MINIMALIS

Adem. Begitulah saat kali pertama OU CHILL tiba di Kopi Manyar, Bintaro. Warna dominan yang hangat, didukung dengan desain interior yang serba modern-minimalis, bikin siapa aja yang dateng langsung nyaman tanpa alasan. Kafe ini punya ruang luas di belakang yang sering digunakan untuk galeri pameran karya. Bentuk bangunan yang unik bikin setiap sudut kafe ini…
Uncategorized

MARCHELLA FP: BIAR KARYA YANG NGOMONG SENDIRI

“Nafas sebentar, apa sih yang dikejar?” “Nggak papa, besok kita coba lagi.”   “Tenang, nggak semuanya harus ada jawabannya sekarang”   “Duduk sebentar, biar paham”   “Selalu ada celah, untuk lihat salah”