Ada Cerita Di Balik Kolase Ika

 

Ketika sepuluh jari tangan bermain – main dengan gunting, kumpulan gambar, lem, serta sentuhan seni maka jadilah sebuah kolase. Adalah Ika Vantiani, perempuan dibalik semua karya kolase apiknya yang lahir dari ide – ide dan ceritanya sendiri, lalu ia wujudkan menjadi sebuah susunan gambar yang mempunyai cerita.

 

Usut punya usut, Ika yang dulunya sempat menyelam lama di dunia periklanan sebagai kreatif ini ternyata sudah memiliki hobi membuat kolase sejak lama. Bahkan Ika mempunyai toko online di Etsy sejak ia masih berkecimpung di dunia iklan. Kurang lebih sudah 10 tahun terakhir ini ia mulai menekuni kolase lebih dalam, terlebih sejak melihat karya – karya mix media seniman di luar Indonesia saat blog hopping tahun 2008 lalu.

 

 

Berani keluar dari zona nyaman adalah suatu reward yang membawanya hingga menjadi sekarang ini. Baginya, seni adalah rumah. Rumah yang selalu ia tinggali juga rawat dengan terus belajar lebih banyak ilmu di dalamnya.

 

 

Dari sekian banyak karya kolase Ika, karya Please Don’t Cry yang ia buat tahun 2009 adalah karya yang paling berkesan baginya karena berkat karya tersebut Ika sekarang bisa tegar dan berdamai dengan keadaan.

 

 

Fyi ni guys, kolase terdiri dari dua yaitu kolase digital dan manual. Kolase digital lebih aman jika di simpan di komputer dan di cetak jika memang diinginkan. Untuk perawatan biasanya di simpan dalam plastik atau di bingkai sekalian. Nah, nggak jauh beda dengan kolase digital, kolase manual biasanya di simpan dalam map tersndiri. Bahkan Ika mempunyai kotak khusus untuk menyimpan karya – karyanya tersebut. Namun tetap saja, penyimpanan terbaik menurut Ika adalah dengan di bingkai.

 

 

Penggemar berat seniman Lisa Congdon ini sedang mempersiapkan beberapa project juga pameran di tahun ini seperti beberapa pameran yaitu Art Jog 2018, The Creative Freedom Festival, Proyek SKS dan Microgalleries 2018. Salut dengan perempuan inspiratif ini.

 

Tantangan paling menantang dalam kehidupan adalah menjadi diri sendiri setiap hari – Ika Vantiani

Gimana? Sudah menjadi diri sendiri kah kalian hari ini?

 

2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in OU Cool

OU Cool

CITA-CITA ISAAC AKHIRNYA LAHIR BERSAMA EP COCOON

EP COCOON yang terdiri dari 4 single lagu ini adalah salah satu cerita bagaimana masing-masing personil Isaac dalam meraih cita-cita mereka dalam hidup. Band yang terdiri dari Marhain Williams (vocal, gitar), Nyoman Agastyasana (gitar), Akbar Prihartama (bass), dan Reinardus Suryandaru (drum) ini baru saja merilis karya mereka beberapa bulan yang lalu. Berikut penjelasan singkat mengenai…
OU Cool

PAMERAN OLEH PENGUNGSI: ‘’BERDIAM ATAU BERTANDING’’

Waktu OU Cool main ke Galeri Nasional beberapa waktu yang lalu, tampak banyak sekali turis asing yang datang silih berganti di salah satu ruang pamer di kompleks itu. Karena penasaran, kami akhirnya membawa OU Cool ke sisi yang ramai itu.   Sebuah judul besar menyambut kami di pintu utama pameran tersebut, ‘’Berdiam atau Bertanding’’. Dari…
OU Cool

ANDRA MATIN: DI BALIK KONSEP KAFE-KAFE MODERN-MINIMALIS

Adem. Begitulah saat kali pertama OU CHILL tiba di Kopi Manyar, Bintaro. Warna dominan yang hangat, didukung dengan desain interior yang serba modern-minimalis, bikin siapa aja yang dateng langsung nyaman tanpa alasan. Kafe ini punya ruang luas di belakang yang sering digunakan untuk galeri pameran karya. Bentuk bangunan yang unik bikin setiap sudut kafe ini…
Uncategorized

MARCHELLA FP: BIAR KARYA YANG NGOMONG SENDIRI

“Nafas sebentar, apa sih yang dikejar?” “Nggak papa, besok kita coba lagi.”   “Tenang, nggak semuanya harus ada jawabannya sekarang”   “Duduk sebentar, biar paham”   “Selalu ada celah, untuk lihat salah”