OLEH-OLEH CERITA OBAT KUAT JUGA SPEAKER MONOTON DARI KRACK STUDIO

Rasanya tidak pernah bosan untuk mengunjungi ruang-ruang perupa di setiap sudut Jogjakarta. Selalu saja ada ruang seni menarik yang minta untuk dikunjungi. Kebetulan, kali ini OUCHILL berkesempatan untuk berkunjung ke Krack Studio, sebuah studio artmaking yang selalu jadi ruang multifungsi para senimannya.

 

Studio ini tidak hanya memproduksi karya cetak sablon saja, namun juga sebagai wadah para seniman untuk memamerkan karya-karyanya. Krack juga menjadi ajang sharing ilmu hingga babat tuntas tentang dunia seni. Semua orang bebas untuk datang pada kesempatan sharing ilmu juga pameran tersebut, plus jangan sungkan untuk bertanya apa saja kepada anggota Krack Studio, karena mereka akan menceritakan segala hal yang kalian lihat disana. Tambah ilmu, tambah tahu, paket komplit bukan?

Krack didirikan oleh beberapa orang seniman yang kebetulan punya visi dan misi yang sama. Di antara lain Moki, Rudi “Lampung” Hermawan, Malcolm Smith dan Sukma Smita.  Berkat mereka, kini semua seniman dapat menggelar juga membuat karya di studio ini, dari lokal hingga mancanegara.

 

Selama main di Krack, ada beberapa oleh-oleh baru yang OUCHILL dapatkan. Ada karya pemaran OBAT KUAT hingga karya pameran GLOBAL SPRING. Ada cerita menarik tentang pengaruh iklan cetak dari jaman kolonial di sana. Isu seksualitas memang sudah ‘’panas’’ sejak jaman kolonial ternyata. Pengetahuan-pengetahuan baru yang masuk ke daerah-daerah belum bisa diterima begitu saja, bahkan hingga saat ini.

Rasanya sangat tabu bukan jika membahas OBAT KUAT walaupun tidak menggunakannya, toh jika ada yang menggunakan, tidak ada urusannya dengan kita juga, namun selalu menjadi tabu di masyarakat.

 

Lalu cerita lainnya dari kritik sosial dari salah satu seniman yang menggelar pameran GLOBAL SPRING. Bagaimana kota Jogjakarta yang kental dengan budaya, juga riskan dengan hal-hal berbau isu agama. Hal itu dibalut dengan karya-karya Vendy Methodos.  Karya-karya Methodos tersebut memang menjadi kritik terbuka untuk aliran-aliran kelompok yang agamis garis keras, tapi juga berlaku untuk kalangan liberal, aktivis juga kaum intelektual. Tetapi, kembali lagi pada karya-karya yang ada. Selalu saja ada pro dan kontranya, tergantung bagaimana orang yang menyikapi karya-karya tersebut. Benar bukan?

Terimakasih OBAT KUAT juga SPEAKER-SPEAKER MONOTON di lingkungan masyarakat. Sampai jumpa di lain waktu!

 

0 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in OU Chill

OU Chill

Escape From Your Routine to Fotkop + Warung Pa’E

Bagi pencinta fotografi pasti sudah tidak asing dengan nama Anton Ismael. Fotografer sekaligus art director yang sering dipanggil Pa’E ini merupakan pendiri dan pemilik studio Third Eye Space. Selain itu, pada tahun 2006 beliau mendirikan Kelas Pagi, sekolah fotografi gratis berbasis komunitas. Sekolah fotografi ini dinamakan Kelas Pagi karena kelas dimulai pada pukul 06.00 sampai…
OU Chill

MoJA Museum: Museum Kekinian nan Kreatif

Let’s Get To Know about MoJA Museum!   WHERE   Banyak orang membicarakan ‘’museum kekinian’’ di daerah Pondok Indah, Jakarta Selatan ini mendorong rasa penasaran Ou Chill untuk datang membuktikannya. Tempatnya sangat dekat dengan Pondok Indah Mall 1 (PIM 1), sangat mudah dijangkau oleh banyak kendaraan. Moja Museum adalah salah satu museum interaktif, yang sengaja dibangun untuk…
OU Chill

HIDDEN GEM IN BINTARO

Sudah ada rencana weekend ini? Nggak ada salahnya lho, sekali-kali keluar dari hiruk pikuk kota Jakarta untuk mengunjungi tempat-tempat baru yang belum pernah dikunjungi. Melipir ke pinggir yang nggak jauh-jauh amat.   Coba deh, main sebentar ke daerah Bintaro, Tangerang Selatan. Ada banyak tempat-tempat baru yang cocok banget masuk daftar tempat nongkrong atau sekedar mencari…