Melihat Tren Film Horor Indonesia dari masa ke masa

 

Film horor Indonesia mungkin merupakan salah satu genre film yang paling banyak digandrungi oleh masyarakat Indonesia. Lihat saja bagaimana dari Juli 2017 hingga Juni 2018 saja ada 34 judul film horor dengan berbagai subgenre rilis di bioskop. Dari tiga puluhan judul film yang rilis sejak Juli 2017, Pengabdi Setan menjadi salah satu film horor yang paling laris dan menjadi perbincangan penikmat film horor. Selain Pengabdi Setan ada juga film Danur yang tak kalah laris dan memikat hati masyarakat Indonesia.

 

 

Kedua film horror tersebut seakan bisa memberikan pengaruh besar terhadap tren film horor Indonesia ke depannya. Bicara soal tren, film horor Indonesia itu sejatinya tak lepas dari andil pasar yang seakan bisa mengarahkan bagaimana genre atau subgenre film horor Indonesia. Jadi nampaknya formula yang digunakan oleh film seperti Pengabdi Setan ataupun Danur akan banyak digunakan oleh para rumah produksi untuk menciptakan film horor kedepannya.

 

Mengapa bisa ada prediksi seperti itu? Soalnya jika melihat kebelakang tentang tren film horor Indonesia dari masa ke masa pasti ada satu benang merah dari setiap film horor yang muncul di publik setiap eranya.

 

Mungkin kita mulai melihat tren di pada era Orde Baru tepatnya dari tahun 1970-1990an. Pada era tersebut ada satu film horor yang merupakan titik balik kelahiran film horor Indonesia yaitu film tersebut berjudul Beranak dalam Kubur karya Awaludin dan Ali Shahab. Jika kamu bertanya-tanya dari mana Suzanna bisa menjadi legenda sampai dijuluki “ratu horor Indonesia”, film tersebut adalah awal dari kesuksesan Suzanna dalam genre film horor.

 

 

Film tersebut pun menjadi jalan bagi kemunculan film-film horor Indonesia lainnya pada era tersebut. Namun melonjaknya produksi film horor baru lebih terasa pada tahun 1981-1991 di mana ada hampir 84 judul film horor. Angkanya sangat jauh meningkat dibandingkan pada tahun 1972-1980 yang hanya ada 22 judul film horor diproduksi.

 

Tren film di era 1970-1990 pun identik menggunakan tema legenda masyarakat desa yang dibalut dengan unsur kekerasan, seks, dan komedi namun tetap menghadirkan pesan moral dalam setiap ceritanya.

 

Setelah itu film horor di Indonesia—bahkan industri film Indonesia—sempat mati suri. Kebangkitan film horor Indonesia kembali hadir saat film karya Jose Poernomo dan Rizal Mantovani berjudul Jelangkung yang rilis pada tahun 2001 sukses dipasaran. Hal ini terbukti dengan kehadiran 1,5 juta penonton selama film Jelangkung diputar di bioskop-bioskop Indonesia.

 

 

Setelah kehadiran film Jelangkung, atau beberapa tahun kemudian, mulai banyak bermunculan film-film horor yang tak kalah sukses memikat hati penikmat film horor di Indonesia seperti film Kuntilanak (2006), Bangsal 13 (2004), Pocong 2 (2006). Adapun tren film horor Indonesia pada masa itu lebih bertemakan cerita urban hingga menceritakan sesuatu daerah yang terkenal angker. Tak lupa juga unsur seks dan komedi yang masih menjadi senjata bagi beberapa film horor Indonesia untuk menarik penonton.

 

Namun di era awal abad ke-21 tersebut adalah masa film horor Indonesia mendapatkan catatan terburuk. Di mana banyaknya kehadiran film horor Indonesia yang memanfaatkan sensualitas semata sampai kehadiran bintang porno dalam filmnya. Masyarakat pun menjadi jenuh melihat kehadiran film-film horor Indonesia yang menggunakan formula itu-itu saja. Belum lagi gempuran film horor dari luar negeri yang membuat film horor Indonesia semakin ditinggalkan.

 

Dan baru sekarang-sekarang ini lah ada harapan yang kembali lahir bagi industry film horor Indonesia setelah kehadiran film horor seperti Danur, Pengabdi Setan atau Sebelum Iblis Menjemput yang baru rilis pada Agustus 2018. Kehadiran film tersebut setidaknya membuktikan bagaimana penikmat film horor Indonesia memang membutuhkan sesuatu yang ‘baru’ atau ‘segar’ sebagai formula produksi film horor.

 

 

Lalu bagaimana jadinya tren film horor Indonesia kini? Jika berkaca pada tren-tren sebelumnya, besar kemungkinan akan banyak film-film horor Indonesia akan menggunakan formula yang kurang lebih sama seperti Pengabdi Setan atau Danur sekalipun. Entah itu merupakan adaptasi novel, remake film lama, ataupun mengandalkan orisinalitas sebuah cerita. Yang jelas unsur seperti seks dan komedi akan mulai ditinggalkan. Sebab masyarakat akan terus berkaca pada film-film horor yang telah mampu meningkatkan gairah untuk memacu adrenalin para penikmat film horor.

 

2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in OU Chill

OU Chill

Seberapa Penting Kehadiran Video Klip Pada Sebuah Lagu?

Kalau ngomongin soal musik kayaknya nggak lengkap kalau tidak mengaitkan video musik di dalamnya. Kehadiran video musik atau video klip pun bisa jadi daya tarik sendiri untuk kekuatan lagu. Soalnya video klip bukan hanya sebagai materi promosi semata tapi juga menambahkan estetika secara visual untuk sebuah lagu. Bahkan ada beberapa nama musisi yang justru baru…
OU Chill

Melihat Tren Film Horor Indonesia dari masa ke masa

  Film horor Indonesia mungkin merupakan salah satu genre film yang paling banyak digandrungi oleh masyarakat Indonesia. Lihat saja bagaimana dari Juli 2017 hingga Juni 2018 saja ada 34 judul film horor dengan berbagai subgenre rilis di bioskop. Dari tiga puluhan judul film yang rilis sejak Juli 2017, Pengabdi Setan menjadi salah satu film horor…
OU Chill

Gelora Bung Karno dari Dulu Hingga Kini

Kayaknya keseruan Asian Games 2018 nggak abis-abis yah. Meski pun sudah ditutup tanngal 2 September 2018, rasanya susah buat move on dari keriaannya.   Selama 2 minggu lebih, Gelora Bung Karno, Venue Utama Asian Games 2018 jadi saksi gimana perhelatan empat tahunan ini menyatukan negara-negara di Asia lewat sebuah pesta olahraga yang meriah.   Tapi,…
OU Chill

Kuntz Agus dan Petualangan Melintas Genre

Kalau udah pernah nonton film Republik Twitter (2012) atau Surga yang Tak Dirindukan (2016), pasti kamu nggak asing dengan sutradara ini. Yep, OU Magz berkesempatan untuk ngobrol-ngobrol dengan Kuntz Agus!   Sebelum terjun ke film layar lebar, Kuntz Agus dikenal sebagai sutradara film independen. Berawal dari komunitas film dokumenter yang sering jadi pelariannya dari kuliah…