De Tjolomadoe : Dari Pabrik Gula Jadi Ruang Publik

Satu lagi destinasi menarik dari kota Solo, De Tjolomadoe. Bangunan megah di bilangan Karanganyar ini ditaksir akan menjadi pusat budaya, seni, destinasi wisata dan ruang konser bertaraf Internasional di kota Solo.

De Tjolomadoe dulunya merupakan sebuah pabrik gula yang dibangun pada tahun 1861. Pabrik ini menandakan revolusi industri pada masanya, dimana tak lama setelah pabrik ini dibangun banyak pabrik-pabrik yang juga berdiri pada masa itu. Namun setelah hampir 150 tahun tak disentuh tangan manusia, akhirnya dilakukan restorasi besar-besaran pada bangunan tersebut.

 

Setiap sisi (stasiun) pada bangunan tua ini direstorasi dan dijadikan spot tersendiri tanpa sepenuhnya meninggalkan atau menghapus unsur unik pabrik gula.

 

Stasiun gilingan contohnya, begitu anda memasuki bangunan De Tjolomadoe dari pintu depan (utama) kalian dapat langsung melihat mesin-mesin penggiling besar yang dulunya digunakan untuk menggiling tebu guna mendapatkan sarinya. Pada bagian gedung ini juga kalian dapat melihat peta bangunan dan foto-foto pabrik sebelum dan sesudah restorasi.

 

 

Pada bagian kiri terdapat stasiun ketelan yaitu tempat dimana uap dihasilkan sebagai tenaga untuk menggerakkan mesin-mesin pada pabrik gula yang kini duduk manis bersebelahan dengan beberapa kedai makan. Kemudian, memasuki lorong penguapan dimana terdapat tangki besar yang berdiri tegak menemani sebuah toko souvenir dan juga kedai kopi, pada lorong ini magically kalian merasa seakan berada di stasiun kereta api yang ada di film Harry Potter, mungkin karena penempatan lampu jalan yang ada di tengah lorong

 

Nah…tak jauh dari barisan tangki-tangki tersebut kalian pasti akan bertanya-tanya ruangan apa yang ada dibalik pintu-pintu kayu megah tepat diujung lorong. Pintu-pintu ini menuju pada Tjolomadoe Hall! Sebuah ruang konser bertaraf International yang tak lama menapung pertunjukan maestro dunia David Foster & Friends saat peresmian gedung De Tjolomadoe. Di sini juga terdapat ruang serba guna lainnya yang dapat digunakan untuk menampung berbagai acara dengan kapasitas yang lebih kecil yaitu Sarkara Hall.

 

Beralih pada stasiun karbonatasi, tempat dimana pemurnian gula dulunya terjadi yang kini beralih fungsi menjadi pusat kerajinan daerah dimana kalian dapat membeli cendera mata hasil karya masyarakat lokal.

 

Lokasi terakhir namun tak kalah menarik yaitu Besali Cafe, dimana disini kalian dapat benar-benar merasakan interaksi antara bangunan pabrik lama dengan yang baru. Pada cafe ini terdapat berbagai mesin pabrik gula yang membaur dan menjadi satu dengan tempat makan.

 

Gimana? Jadi penasaran kan sama tempat satu ini. Jangan lupa untuk memasukan De Tjolomadoe kedalam destinasi wisatamu saat mengunjungi kota Solo ya!

2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in OU Chill

OU Chill

Gelora Bung Karno dari Dulu Hingga Kini

Kayaknya keseruan Asian Games 2018 nggak abis-abis yah. Meski pun sudah ditutup tanngal 2 September 2018, rasanya susah buat move on dari keriaannya.   Selama 2 minggu lebih, Gelora Bung Karno, Venue Utama Asian Games 2018 jadi saksi gimana perhelatan empat tahunan ini menyatukan negara-negara di Asia lewat sebuah pesta olahraga yang meriah.   Tapi,…
OU Chill

Kuntz Agus dan Petualangan Melintas Genre

Kalau udah pernah nonton film Republik Twitter (2012) atau Surga yang Tak Dirindukan (2016), pasti kamu nggak asing dengan sutradara ini. Yep, OU Magz berkesempatan untuk ngobrol-ngobrol dengan Kuntz Agus!   Sebelum terjun ke film layar lebar, Kuntz Agus dikenal sebagai sutradara film independen. Berawal dari komunitas film dokumenter yang sering jadi pelariannya dari kuliah…
OU Chill

De Tjolomadoe : Dari Pabrik Gula Jadi Ruang Publik

Satu lagi destinasi menarik dari kota Solo, De Tjolomadoe. Bangunan megah di bilangan Karanganyar ini ditaksir akan menjadi pusat budaya, seni, destinasi wisata dan ruang konser bertaraf Internasional di kota Solo. De Tjolomadoe dulunya merupakan sebuah pabrik gula yang dibangun pada tahun 1861. Pabrik ini menandakan revolusi industri pada masanya, dimana tak lama setelah pabrik…
OU Chill

Tumurun Museum : Solo’s New It Museum

Tumurun Museum yang resmi dibuka pada bulan Maret lalu ini merupakan private museum milik Iwan Kurniawan Lukminto atau yang akrab dipanggil Pak Wawan. Tumurun sendiri merupakan singkatan dari turun temurun dimana museum ini didirikan dari penurunan hobi mengkoleksi benda seni dari sang ayah. Meski baru dua tahun menggemari dunia seni, ia seakan tak sabar untuk…