Bermain ke Kebun Bibi

Kebun Bibi sebuah rumah tak berkebun yang terletak di Jalan Minggiran, Yogyakarta ini menyebut dirinya sebagai Art Book Cafe. Padahal yang mereka tawarkan lebih dari sekedar koleksi buku kesenian. Apa saja sih yang sebenarnya bisa kamu dapatkan ditempat satu ini? Mari kita telusuri satu per satu.

Koleksi buku langsung dari Belanda.

Dikelola oleh seniman Sigit Bapak dan seorang pensiunan berkewarganegaraan Belanda bernama Hans. Tak heran buku-buku yang berada di bagian belakang rumah tersebut berasal langsung dari Belanda. Koleksinya pun beragam, meski bernama Art Book Cafe namun kalian masih bisa menemukan buku-buku diluar bidang kesenian seperti novel-novel serta ilmu pengetahuan umum.

Tak hanya dibaca ditempat, buku-buku di sini pun dapat kalian beli dibawah harga pasar. Meskipun bersifat second handed, namun koleksi mereka masih layak bahkan memiliki nilai jual tinggi. Dibangun untuk tujuan sosial, buku-buku tersebut dijual jauh dibawah harga pasaran. Bahkan, saat kalian merasa sudah bosan dengan buku tersebut, kalian dapat menjual kembali buku tersebut kepada Kebun Bibi agar buku tersebut dapat di gunakan kembali oleh orang lain

 

Membaca ditemani kopi dan karya seni

Apa yang membuat tempat ini berbeda dengan tempat membaca lainnya adalah saat kalian membaca buku ditempat, kalian akan disuguhkan minuman serta makanan ringan secara otomatis dan saat kalian beruntung, kalian dapat membaca buku dikelilingi karya seni.

Sebab, bagian depan rumah ini juga berfungsi sebagai galeri seni.

 

Tempat tinggal (jika beruntung)

Kalian pasti akan bertanya-tanya apa yang ada di lantai kedua rumah dua lantai ini, sebab lantai kedua seakaan tidak dapat terjamaah oleh para pendatang. Lantai kedua merupakan rumah singgah Hans. Namun, ia hanya menetapi tempat tersebut saat di Belanda sedang musim dingin. Sehingga ketika ia sedang tidak disana ruang tersebut dapat disewakan bagi para pendatang.

 

Ruang bermain seniman

Bagi kalian para seniman tempat ini bisa menjadi ruang bermain untuk kalian! Sebab, Kebun Bibi terbuka untuk kalian yang ingin berkarya. Tak hanya untuk pameran ruangan galeripun dapat kalian ubah menjadi tempat workshop ataupun pertunjukkan. Asalkan ide kalian masih dapat di eksekusi dengan fasilitas yang disediakan disini, they would love to welcome you here!

Bermain ke Kebun Bibi hal yang tak kalah penting adalah keramahan sang seniman Sigit Bapak yang setiap harinya hadir melayani para pendatang. Ia tak segan untuk menyapa dan berbincang-bincang dengan tamu yang datang, bahkan menyeduhkan sendiri makanan dan minuman. Sebab, Kebun Bibi dikelola sepenuhnya oleh Sigit Bapak dan Han sendiri. Bahkan saat Han kembali ke Belanda, seluruh kegiatan operasional baik dalam hal pameran, perpustakaan dan sajian makanan semua dikelola sendiri oleh Sigit Bapak.

 

Tempat ini tak hanya menjadi destinasi oleh para mahasiswa dan juga seniman, tak jarang tempat ini diramaikan oleh para turis yang “penasaran” dengan rupa rumah yang unik ini. Oh iya…jangan heran jika kalian mendapati tempat ini tutup disiang hari, sebab jam operasional mereka dimulai pada jam 19.00 – 00.00.

0 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in OU Chill

OU Chill

Gelora Bung Karno dari Dulu Hingga Kini

Kayaknya keseruan Asian Games 2018 nggak abis-abis yah. Meski pun sudah ditutup tanngal 2 September 2018, rasanya susah buat move on dari keriaannya.   Selama 2 minggu lebih, Gelora Bung Karno, Venue Utama Asian Games 2018 jadi saksi gimana perhelatan empat tahunan ini menyatukan negara-negara di Asia lewat sebuah pesta olahraga yang meriah.   Tapi,…
OU Chill

Kuntz Agus dan Petualangan Melintas Genre

Kalau udah pernah nonton film Republik Twitter (2012) atau Surga yang Tak Dirindukan (2016), pasti kamu nggak asing dengan sutradara ini. Yep, OU Magz berkesempatan untuk ngobrol-ngobrol dengan Kuntz Agus!   Sebelum terjun ke film layar lebar, Kuntz Agus dikenal sebagai sutradara film independen. Berawal dari komunitas film dokumenter yang sering jadi pelariannya dari kuliah…
OU Chill

De Tjolomadoe : Dari Pabrik Gula Jadi Ruang Publik

Satu lagi destinasi menarik dari kota Solo, De Tjolomadoe. Bangunan megah di bilangan Karanganyar ini ditaksir akan menjadi pusat budaya, seni, destinasi wisata dan ruang konser bertaraf Internasional di kota Solo. De Tjolomadoe dulunya merupakan sebuah pabrik gula yang dibangun pada tahun 1861. Pabrik ini menandakan revolusi industri pada masanya, dimana tak lama setelah pabrik…
OU Chill

Tumurun Museum : Solo’s New It Museum

Tumurun Museum yang resmi dibuka pada bulan Maret lalu ini merupakan private museum milik Iwan Kurniawan Lukminto atau yang akrab dipanggil Pak Wawan. Tumurun sendiri merupakan singkatan dari turun temurun dimana museum ini didirikan dari penurunan hobi mengkoleksi benda seni dari sang ayah. Meski baru dua tahun menggemari dunia seni, ia seakan tak sabar untuk…